“Ada apa dengan tiga makhluk simpanse, manusia dan komputer?”
“Jawabnya, karena mereka ada di dalam kepala kita.”
“Manusia dan komputer sih oke, tapi kalau Simpanse itu apa maksudnya.”
“Hem, itu juga yang menjadi pertanyaan saya saat awal membacanya dalam buku baru yang saya beli beberapa hari lalu. Buku berjudul Mengelola Pikiran untuk Mencapai Kesuksesan dan Kebahagiaan karya seorang Psikiater Konsultan bernama Profesor Steve Peter.”
Saya masih berada pada separuh jalan membaca buku berhalaman 380 lembar itu. Karena isinya yang begitu menarik menurut saya, maka saya pun tak sabar untuk menuangkan kembali pemahaman yang saya baca dari buku itu melalui tulisan ini. Tujuannya adalah agar apa yang saya baca itu tetap menjadi ingatan di kepala dan bisa diaplikasikan seoptimal mungkin.
Profesor Steve Peter telah lebih dari 20 tahun bekerja pada bidang psikiatri klinis. Beliau juga telah terlibat di dalam 12 cabang Oliampiade, Rugby dan Premier League Football di Inggris dan juga banyak membantu bekerja sama dengan para CEO dan eksekutif senior, rumah sakit, pasien dan para mahasiswa. Steven Gerrad salah seorang legenda sepak bola Inggris menjadi salah seorang yang telah membuktikan metode pengelolaan pikiran profesor Peter ini dalam konsistensinya bermain di klub Liverpool.
Buku berwarna putih itu telah mampu menghipnotis kami untuk membelinya setelah kami menemukan ketertarikan pada kalimat-kalimat yang ditulis pada cover luar buku itu sebagai gambaran tentang isi buku tersebut. Yang lebih utama tentu buku ini bukan ‘kaleng-kaleng’ meminjam istilah anak zaman now, karena ditulis oleh seorang ahli berdasarkan kompetensi dan pastinya pengalaman yang dimilikinya. Selain itu, kata-kata Anda akan menjadi bahagia, percaya diri, lebih sehat, lebih sukses dan Anda akan menjadi orang yang Anda inginkan dalam menjalani kehidupan merupakan salah satu kata kunci kami untuk membeli dan membaca buku bergenre self help. Siapa sih yang tidak menginginkan hal tersebut dalam dirinya?
Beberapa tahun belakangan saya semakin menjadi sangat begitu maniak dengan buku-buku pengembangan diri (self help), termasuk di dalamnya buku-buku yang berbicara tentang dahsyatnya potensi otak manusia. Karena banyak sekali ditemukan keseruan ketika membaca buku-buku itu. Bukan hanya kita yang akan semakin tahu tentang kekuatan otak tersebut bila dipergunakan dengan tepat, sampai pada bukti-bukti orang yang telah berhasil berubah dan bertransformasi menjadi sesuatu karena dia berhasil memanfaatkan kekuatan otaknya tersebut.
Selalu saja ada gairah baru memberdayakan yang muncul untuk belajar mengoptimalkan potensi tak ternilai dari Yang Maha Kuasa ini setelah membaca buku-buku self help seperti itu. Saya pun sering menerawang seandainya saya sedari bangku sekolah sudah membaca buku-buku seperti ini, mungkin akan berbeda ceritanya. Tapi tak mengapa, masa lalu mungkin tak bisa diubah lagi, tapi masa depan masih banyak peluang yang bisa kita bingkai.
Buku ini pun begitu praktis dengan latihan-latihan di dalamnya, serta cukup ringan dibaca oleh orang yang bukan berlatar belakang seorang dokter, psikolog atau praktisi Sains. Karena buku ini bicara tentang dahsyatnya kekuatan otak (yang setiap orang berhak untuk tahu akan kekuatan dan fungsi otaknya), rasanya tak salah kalau saya pun ingin terus mengoptimalkan kemampuan otak yang saya punya melalui buku ini.
Benar seperti yang kami duga kalau buku ini sangat menarik. Disajikan dengan bahasa dan berbagai analogi yang semakin memudahkan kita paham tentang bagian-bagian otak dan fungsinya. Padahal waktu di sekolah dulu, kalau sudah berbicara tentang otak dan fungsinya akan menjadi sesuatu yang cukup rumit dipahami dan terkadang jadi membosankan buat saya. Apresiasi yang begitu tinggi pada profesor Peter yang telah membuat dan mengemas buku bagus ini, sehingga easy reading dengan contoh-contoh praktis yang rasanya begitu nyata dalam kehidupan kita sehari-hari yang cukup mudah saya pahami sebagai orang awam.
Selalu saja saya menemukan dimensi yang baru, kekayaan pengetahuan dan sudut pAndang yang beragam, serta riset-riset tentang kekuatan otak yang sangat menakjubkan dari buku-buku sejenis yang saya baca sebelumnya. Satu hal yang menjadi kesamaan buku-buku itu adalah dengan kekuatan otak yang kita punya, jika dia dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya dapat membawa kita pada perubahan kebaikan kehidupan dan pemikiran yang radikal.
Masalahnya adalah kita mungkin selama ini belum tahu cara mengoptimalkannya. Bahkan sedihnya lagi, sebagian kita beranggapan bahwa kemampuan otak kita itu masing-masing orang telah ada takarannya. Bahasa ekstrimnya otak tiap kita tak bisa dikembangkan lagi. Itulah dulu yang juga menjadi sebuah fixed mindset bagi saya. Tetapi kabar baiknya ternyata kejeniusan pada otak itu kata Einstein 1% adalah bawaan, dan 99% karena dilatih.
“Tidak percaya? Lihat saja orang-orang sukses atau mereka yang bertumbuh. Dia takkan jadi apa-apa kalau tak melakukan usaha untuk mengoptimalkan pencapaiannya melalui otak yang dimilikinya.”
Selama tidak ada sesuatu yang fatal terjadi pada otak manusia, sejatinya fungsi otak itu bisa dilatih. Ibarat seseorang yang ingin membuat tubuhnya six packs dengan pergi gym dan berlatih rutin tiap hari yang akhirnya membuatnya badannya kotak-kotak, begitu pun dengan otak. Otak kita akan semakin baik fungsinya ketika dia rutin di latih. Itu yang membuat saya senang membaca buku-buku seperti ini.
Kata di latih ini kiranya yang telah dilakukan dan dibuktikan seorang profesor Saldi Isra, seorang Hakim Mahkamah konstitusi dari Universitas Andalas, Sumatera Barat, pada kekuatan dan kecerdasan otak yang dimilikinya. Sebab faktanya beliau mengaku bahwa kehidupannya saat bersekolah yang begitu susah, sampai-sampai beliau dan keluarganya sering makan hanya dengan berlauk garam saja. Tetapi beliau tetap berprestasi baik di sekolah dan akhirnya menjadi seorang guru besar bidang Hukum. Mungkin keadaan terbalik banyak kita temukan saat ini. Tak jarang kecukupan gizi yang kita berikan pada anak belum membawa mereka pada kondisi cemerlang otaknya. Kenyataan Profesor Saldi Isra itu pun membuat saya kembali terenyuh, ternyata tak cukup makanan fisik saja yang bisa membuat otak semakin kuat potensinya. Pasti ada sesuatu yang lain yang membuat kondisi ini terjadi.
Kembali pada buku profesor Peter, dalam buku itu disebutkan sebagai analogi bahwa terdapat tiga otak dalam kepala kita yaitu Manusia, Simpanse dan Komputer. Analogi itu dibuat Profesor Peter agar kita yang awam ini lebih mudah memahami fungsi-fungsi bagian otak yang berbeda tersebut. Semakin menarik buat saya karena tak harus jadi ribet untuk menyebutkan nama-nama otak itu dalam Bahasa Sains/Kedokterannya.
Manusiakan adalah Kita, dan Kita hidup di lobus frontal.
Simpanse adalah mesin emosi Kita yang diberikan pada kita ketika lahir dan hidup di sistem limbik.
Komputer adalah sebuah Gudang untuk pikiran dan prilaku yang menyebar di seluruh otak. Komputer menyimpan informasi tentang manusia. Kemudian informasi ini digunakan untuk melakukan tindakan dengan otomatis atau menggunakannya sebagai acuan.
Sifat dari pemikiran emosional (Simpanse) yaitu langsung mengambil pendapat, berpikir hitam-putih, paranoid, katastrofe, tidak rasional dan penilaian yang emosional. Contoh dari cara berpikir emosional ini salah satunya adalah pada saat kita bertemu pada lingkungan atau orang baru. Tak jarang kita akan menjadi paranoid dan jadi terlalu berhati-hati atau minder dalam bersikap. Kita akan waspada dan mengamati situasi, agar tidak terjadi sesuatu. Simpanse menginginkan kita dalam kondisi yang aman, meski terkesan agak berlebihan. Atau pernahkah Anda, langsung jadi marah-marah tatkala ada mobil/kendaraan yang tiba-tiba menyalib di depan Anda? Serta-merta Anda seakan ingin mengejar kendaraan tersebut dan memberinya pelajaran.
Bahkan sampai di tempat kerja pun Anda masih merasa tidak enak karena merasa seperti disepelekan orang yang menyalib kendaraan Anda tadi. Saat kita membuat keputusan akan suatu hal didasarkan pada suka atau tak suka, bukan karena sebuah fakta/rasionalitas, maka dalam situasi itu kita sedang menggunakan fungsi otak Simpanse.
Pemikiran Manusia adalah sesuatu yang logis berdasarkan fakta dan kebenaran. Sifat-sifat pemikiran itu yaitu berbasis pada pada bukti, rasional, berada dalam konteks dan sudut pAndang dan memahami area kelabu dan memiliki penilaian yang seimbang. Contoh, ketika mobil kita disalib oleh seseorang dan ‘simpanse’ kita merasa tak terima, lantas kita kembali pada pemikiran ‘manusia’, yang tak terpancing pada suatu keadaan yang tak berguna, kita telah menggunakan pemikiran rasional kita.
Saat kita sudah merasa kenyang dan menolak ajakan teman untuk makan dan kulineran lagi itu adalah cara berpikir manusia. Mungkin saja Simpanse Anda masih ingin mencoba menu-menu lainnya untuk memenuhi hasrat emosionalnya. Di waktu kita tidakak menjadi baper (sensitif) atas perbedaan pendapat yang terjadi, atau karena tak semua orang mau mendukung kita, itulah bukti kita telah menggunakan pemikiran ‘manusia’. Otak Simpanse akan tidak menerima situasi tersebut dan cenderung menjadi kesal bahkan mungkin bisa menjadi dendam.
Lalu timbul pertanyaan apakah otak ‘simpanse’ bermanfaat? Tentu saja, setiap organ yang diberikan Tuhan pasti ada manfaatnya. Profesor Peter mengatakan sebagai manusia kita hanya harus mengatur otak ‘simpanse’ kita dengan tepat, agar dia menjadi sebuah kekuatan memberdayakan buat kita.
Bagian ketiga dari otak manusia oleh Profesor Peter di sebut ‘komputer’. Otak ‘komputer’ fungsinya menyimpan informasi yang telah dimasukkan oleh ‘simpanse’ dan ‘manusia’. Kemudian, informasi-informasi itu digunakan untuk melakukan tindakan dengan otomatis atau menggunakannya sebagai acuan. Saat lahir, otak ‘komputer’ manusia adalah sebuah hard disk kosong. Dia adalah ‘gudang’ untuk perilaku dan kepercayaan yang kemudian dimasukkan oleh ‘manusia’ dan ‘simpanse’ Anda.
Komputer akan bertindak berdasarkan informasi yang tersimpan dikarenakan dia tak memiliki pemikiran orisinal atau daya interpretasi. ‘Manusia’ dan ‘simpanse’ sering kali tak menyadari bahwa mereka telah memasukkan pikiran atau perilaku sadar atau tak sadar ke dalamnya. Maka seberapa sukses fungsinya bergantung pada seberapa benar dan seberapa bermanfaatnya asupan yang diterima olehnya.
Di antara ketiga bagian otak tersebut, ‘komputer’ adalah bagian yang terkuat, karena dia adalah sumber acuan yang digunakan ‘simpanse’ dan ‘manusia’ untuk memperoleh bantuan dan tuntunan jika ada suatu hal yang terjadi. Itulah kenapa kita sangat dianjurkan untuk mengenal cara kerja Komputer dan cara memeliharanya. Agar tuntunan yang diberinya menjurus ke arah kesuksesan dan kebahagiaan. Komputer pun dianggap bekerja lebih cepat empat kali lipat dari ‘simpanse’ dan dua puluh kali lipat dari kecepatan ‘manusia’. Artinya jika ‘komputer’ berfungsi dengan baik dia dapat melaksanakan perintah pada kecepatan yang menakjubkan dan akurat sebelum ‘simpanse’ dan ‘manusia’ selesai berpikir.
Kalau begitu apa sih elemen yang ada dalam otak ‘komputer’? Autopilot, Gremlin Goblin dan Batu Kehidupan adalah elemen yang ada dalam otak ‘komputer’ kita. Autopilot adalah kepercayaan atau perilaku yang membangun atau bermanfaat dan membantu kita untuk menjadi bahagia dan sukses dalam hidup. Mereka dapat dimasukkan ke ‘komputer’ pada usia berapa pun juga. Contoh Autopilot adalah mengemudikan sepeda/motor/mobil, tetap tenang ketika terjadi sesuatu yang tak beres, fokus pada jalan keluar, tepat waktu/disiplin, citra diri positif dan lain sebagainya.
Gremlin adalah kepercayaan atau perilaku yang tidak bermanfaat atau menghancurkan yang bisa disingkirkan. Biasanya Gremlin muncul dan terprogram setelah usia delapan tahun. Contohnya, suka bereaksi berlebihan, menyalahkan orang lain, mendramatisir keadaan. Rendah diri, atau makan secara berlebihan tapi sebenarnya tak membutuhkan. Berulang kali melakukan kesalahan yang sama juga contoh dari gremlin. Misalnya, tak bisa tepat waktu dan cenderung sering terlambat mungkin adalah gremlin yang tak Anda sadari selama ini.
Goblin adalah kepercayaan atau perilaku yang tak bermanfaat atau bahkan menghancurkan yang sudah tertanam begitu dalam dan sangat sulit disingkirkan. Goblin biasanya muncul sebelum usia delapan tahun. Misalnya saja sewaktu kecil seorang anak menunjukkan hasil menggambarnya pada orang tua dengan begitu antusiasnya. Setelah melihat gambar tersebut sang orang tua tampak dingin menatap sang anak dan mengatakan kalau hasil gambarnya jelek dan dia tak mampu untuk menggambar.
Anak kecil yang masih banyak berpikir menggunakan pikiran bawah sadarnya itu pun langsung merekam pernyataan tersebut dan selanjutnya akan menjadi sebuah keyakinannya bahwa dia tak mampu menggambar dengan bagus. Orang tua yang biasa menghardik anak ketika marah karena tak mampu mengendalikan emosi dengan baik, bisa membuat anak meniru perilaku tersebut atau menjadi pribadi yang cenderung merasa tertekan di masa depannya. Itu bisa menjadi goblin buat sang anak. Bullying yang terjadi pada seseorang pun bisa menjadi goblin pada orang itu.
Batu Kehidupan berisi nilai-nilai dan kepercayaan yang kita gunakan menjalani kehidupan. Batu Kehidupan terdiri dari kebenaran hidup, nilai-nilai dan daya hidup. Contoh dari batu kehidupan ini misalnya adalah keyakinan kita bahwa kehidupan ini tidak adil, semua yang terjadi pasti ada hikmahnya, kejujuran, kesetiaan, pantang menyerah, dll. Setiap orang memiliki batu kehidupannya masing-masing yang berasal dari tiga hal tersebut yang telah menjadi sebuah nilai-nilai atau kepercayaannya.
Setelah menyelesaikan membaca buku itu tentu banyak sudut pAndang baru yang kita temukan di dalamnya tentang dahsyatnya otak manusia. Banyak hal-hal yang begitu menarik di buku ini. Selanjutnya Anda bisa membaca buku bagus ini dan menemukan keseruan di dalamnya sebagai salah satu refreshing di akhir tahun.
Bagi saya pribadi buku ini menjadi sebuah tools lagi untuk meninjau kembali tiga bagian otak yang tentunya secara langsung atau tak langsung telah terprogram oleh saya sebelumnya. Tak jarang saya tersenyum sendiri saat membaca lembar demi lembar buku ini. Karena sebagai manusia saya pun sudah pasti tak lepas dari ‘simpanse-simpanse’ pemikiran yang terkadang liar dan tentunya kurang memberdayakan sang ‘manusia’ dalam diri saya. Sampai-sampai ‘simpanse’ yang tak diatur dengan baik ini pernah seakan memasung saya dalam rimbanya hampir selama empat bulan.
Apa-apa yang dikatakan oleh Profesor Peter tentang tiga kekuatan otak itu pun begitu nyata terasa bagi saya. Sebaliknya juga, usai membaca buku ini, kembali ‘simpanse’ saya saat ini seakan mengajak ‘manusia’ saya lagi untuk segera mengeksekusi pengalaman dan pembelajaran empat tahun lalu dalam sebuah buku yang memang begitu ingin saya tuliskan. Hem, saya pun langsung segera mengirim pesan ini ke Autopilot saya tentang keinginan menuliskan buku ketiga saya terkait pengalaman saya itu sebagai salah satu goal saya di tahun 2020.
‘Simpanse’, ‘manusia’ dan ‘komputer’, tiga bagian otak dalam diri manusia yang tak terpisahkan. Satu sama lain bisa saling bersinergi membentuk kekuatan yang produktif dan memberdayakan. Sebaliknya satu sama lain bisa juga saling berkomplot pada hal-hal yang tak memberdayakan dan tak bermanfaat. Manusia dengan kemampuan otak ‘manusia’ nya yang punya karakteristik hati nurani, pengendalian diri, perasaan tentang tujuan, pencapaian dan kepuasan, mematuhi aturan, kasih sayang dan kejujuran mestinya bisa menjadi pemeran utama dalam menjalani suatu kehidupan yang manusiawi. Hidup sekadar hidup dan bisa makan, berfokus hanya pada banyaknya keturunan dan kesenangan diri, hanya memikirkan teritorial dan kekuasaan jelas ciri khas otak ‘simpanse’. Otak ‘komputer’ kita akan menyimpan apapun yang kita program untuknya. Segala pilihan ada di tangan kita. Kabar baiknya otak ‘komputer’ kita sekali lagi bisa di program ulang untuk menjadi lebih baik yang tentu saja berdampak buat baiknya kehidupan.
Apalagi saat ini pendekatan-pendekatan ilmu seperti itu, katakanlah semacam NLP (Neuro Linguistic Program), Hipnoterapi, Konseling, Coaching dan sebagainya, semakin berkembang untuk program peningkatan pemikiran manusia. Di akhir tulisan ini saya jadi teringat kembali sebuah cerita dalam buku Mind Power Abad 21 karangan Jhon Kehoe. Di buku itu ada sebuah pesan kehidupan yang disampaikan seorang kakek pada cucunya.
“Nak, di pikiran mu ada dua ekor serigala yang senantiasa bertarung. Ada serigala yang baik dan ada serigala yang jahat.” Ujar sang Kakek.
“Kalau begitu, siapa yang akan menang dalam pertarungan itu kek?” Tanya si Cucu.
“Serigala yang sering kau beri makanlah yang akan menang dalam pertarungan tersebut.” Jawab sang Kakek dengan tersenyum.
Sudah pasti kita tak mau memberi makan seekor serigala jahat yang akan merusak, bukan?