Yes, Eat That Frog, sure. Dan, Anda betul sekali. Saya memang bukan sedang bicara tentang makanan. Tapi lagi bicara tentang salah satu buku keren yang sangat bergizi untuk konsumsi otak kita.
Sekitar enam tahun lalu buku mungil itu saya baca. Apalagi ketika saya semakin kerajinan dengan buku-buku self-help, disodori buku seperti itu oleh my babang tamfan (baca: suami) saya tak mampu menolak. Walau agak geli dengan judulnya karena ada kata-kata dan gambar frog alias katak. Ini rahasia kita ya, i hate the frog! Kembali ke laptop. Tapi apalah arti sebuah judul, don’t judge book from its title, right?
Kecil-kecil cabe rawit. Buku yang bercerita tentang time management dan produktivitas pribadi. Sangat aplikatif dan renyah dicerna. Sering orang merasa waktu sangat cepat berlalu, namun tak banyak pekerjaan yang bisa dihasilkan. Merasa kelelahan tapi hasil tak optimal, rasanya seakan terjebak pada rutinitas saja.
Salah satu nasihat ibu pada kami adalah jangan buang-buang waktu. Di usianya yang sudah lanjut, ibu adalah salah seorang terdisiplin yang saya ketahui. Dengan kesederhanaannya beliau praktekkan time manajemen itu sampai hari ini.
Buku ini menjadi salah satu karya apik Brian Tracy yang telah puluhan tahun merenangi lautan dunia pemberdayaan manusia dan terilhami dari ratusan buku dan artikel terkait time management yang dilahapnya. Luar biasa! Ratusan buku dan artikel plus pengalaman riil beliau dan murid-muridnya yang berjibaku mengarungi samudera kehidupan disulapnya menjadi buku kecil kaya ilmu.
Eat That Frog menjadi salah satu energizer saya kembali beraktivitas setelah sejenak hening di awal tahun. Melaluinya saya kembali disentil untuk melakukan aktivitas bernilai besar dalam keseharian. Kerja-kerja prioritas sesuai tujuan kehidupan yang saya inginkan. Apa tujuan kehidupan Anda? Semakin jelas tujuan itu, semakin bersemangat pula kita mencapainya. Dan itu lah yang menjadi prioritas aktivitas yang dilakukan.
Untuk itu kita harus mau dan berani memakan katak yang terbesar pula. Katak dianalogikan sebagai kerja-kerja besar prioritas alias utama yang difokuskan, bukan yang remeh-temeh. Sering kali katak itu adalah pekerjaan yang kita abaikan padahal itu sesuatu yang penting sebenarnya.
Sebagai contoh, salah satu tujuan saya adalah meningkatkan kapasitas diri sebagai seorang profesional coach dan sedang menggalakkan komunitas coaching ke penjuru nusantara. Maka aktivitas harian yang dilakukan adalah berfokus pada hal tersebut. Di antaranya dengan membaca buku-buku yang relevan dengan coaching atau people development, buku-buku kepemimpinan, mengikuti workshop, melihat video peningkatan kompetensi, update strategi pengembangan komunitas coaching, menambah jam terbang untuk meningkatkan level credential global adalah beberapa contoh action yang dilakukan. Di luar dari itu bukan termasuk hal prioritas untuk dilakukan terkait profesi saya.
Mendisiplinkan diri untuk menulis tiap minggu, membaca buku-buku, tadabbur alam, refleksi diri, ikut kelas menulis juga bagian dari aksi prioritas saya. Menulis menjadi separuh panggilan jiwa dan sarana pembelajaran kembali sesungguhnya buat diri ini. Jika ada yang terinspirasi oleh apa yang saya tuliskan, itu menjadi bonus yang istimewa.
Dengan melakukan self coaching saya didorong untuk menuliskan kembali apa tujuan kehidupan saya. Apa saja yang jadi prioritas sepanjang tahun ini. Semakin menarik ketika kita mengetahui dan melakukan aktivitas yang bernilai tinggi dalam kehidupan. Hari-hari yang dilalui semakin bermakna. Diri terasa lebih berenergi, perasaan yang semakin bahagia, semakin percaya diri, karier yang melejit, bonus yang semakin tinggi, keluarga yang semakin harmonis, kolega yang semakin bertambah, pribadi dan pemikiran yang semakin bertumbuh adalah sesuatu yang akan menjadi efeknya. Bukankah semua itu bagian yang kita inginkan?
Sebaliknya, kegiatan-kegiatan remeh-temeh yang tak berdampak signifikan pada pencapaian tujuan kehidupan sudah mulai dengan arif dikendalikan. Di antaranya adalah bijak menggunakan teknologi informasi. Rata-rata orang Indonesia menghabiskan waktu sebanyak 5,5 jam dengan ponselnya. Wow, saya sangat terperangah mengetahuinya. Kalau memang itu sesuatu yang mendukung pencapaian karier atau tujuan kehidupan, ya sah-sah saja dilakukan. Contohnya saat WFH atau belajar daring di era pandemi sekarang. Namun kalau untuk sesuatu yang tujuannya tak jelas, kesenangan semu, ngobrol ngalur-ngidul, fix ini buang-buang energi namanya. Mendingan saya bobok cantik, saving energi.
Melihat ponsel setiap saat, on terus di dunia maya bahkan saat sedang bekerja di kantor dan lainnya adalah sesuatu yang mendistraksi produktivitas. Pekerjaan utama terganggu. Fenomena yang jamak terjadi dalam dunia kerja dan kehidupan kita.
Saat mengikuti diskusi, kelas-kelas seminar dan sejenisnya sangat sering kita melihat orang yang sedikit-sedikit melihat dan menyentuh layar ponselnya. Jangankan untuk kelas-kelas yang serius macam itu, ketika ngumpul dengan sahabat atau keluarga, saya sangat menertibkan tangan untuk tak menyentuh ponsel pada saat-saat tak perlu. Karena tujuan kita berkumpul untuk saling bercerita, share, bukan mau main hp. Kalau mau main hp buat apa ajak ketemuan, iya kan?
Memang, pekerjaan kami cukup dominan menggunakan kecanggihan dunia maya, tapi tak lantas membuat diri ini on terus di sana. Tak semua informasi harus saya respons. Tak selamanya kita harus terus berhubungan dan bersahut-sahutan melalui benda persegi panjang itu. Saya sangat sepakat dengan buku itu kalau kita harus cerdas dan bijak tak terjebak kecanggihan teknologi informasi.
Teknologi hadir untuk memudahkan pekerjaan, bukan malah menjajah atau memperbudak kehidupan. Sering orang kehabisan energi, karena tidur larut malam, keesokannya kerja dan aktivitas jadi serampangan gara-gara melotot terus pada pesona dunia maya. Ujung-ujungnya sewot, merasa jadi korban keadaan. Padahal diri sendiri yang tak menentukan prioritas. Jangan karena teknologi kita jadi autis, jadi tak peka dengan orang-orang di sekitar dan tanggung jawab.
Dan masih banyak lagi aktivitas remeh tak esensi lainnya yang bisa disingkirkan saat hendak mencapai aktivitas bernilai tinggi dalam keseharian yang sangat erat korelasinya dengan tujuan hidup kita yang sesungguhnya. Dan kabar baiknya selalu ada strategi untuk kita tahu memilahnya.
Kepada Allah yang Maha Kuasalah kita terus berdoa dan bersyukur, semoga kita diberikan kekuatan dan petunjuk untuk selalu mau belajar dan melakukan prioritas yang tepat dalam mengarungi laju dinamika kehidupan ini. Dan, selanjutnya, are you ready to eat that frog?
Cibubur, 01 Maret 2021