Pertanyaannya adalah lalu bagaimana Dr Frankl bisa bertahan selama 3 tahun dalam keadaan sangat mengerikan dan penuh penderitaan itu? Sudah tentu ini sebuah keberuntunganku dari yang Kuasa, kata Dr Frankl mengakui.
Namun poin yang saya pahami juga bahwa keberuntungan dari yang Kuasa pun tetap ada proses-proses pendahulu yang dilakukan (dia tak datang serta merta) yaitu usaha dan doa.
Meskipun buku ini adalah bagian cerita kepedihan dan penderitaan hidup Dr Frankl saat menjadi tawanan di camp konsentrasi, namun cerita-cerita positif tentang sebuah ketegaran, kesabaran, optimisme menjalani sebuah siklus kehidupan di masa-masa sulit lebih banyak disampaikan. Termasuk bagaimana penjelasan dan penggunaan Logoterapi bisa diaplikasikan buat seseorang dalam memulihkan tantangan psikologis dan kehidupannya.
Dari yang saya pahami di buku itu agaknya Dr Frankl sendirilah orang pertama yang menerapkan Logoterapi dalam dirinya di tengah guncangan jiwa yang pasti juga dirasakan saat berada di camp konsentrasi. Meski belum tuntas buku dan teori tentang Logoterapi itu dia ciptakan saat itu.
Maka, menurut Anda apa yang menjadi faktor kuat Dr Frankl mampu bertahan hidup di dalam sebuah kondisi kehidupan dan keadaan yang tak biasa, alias di situasi yang serba sangat menderita dan menakutkan? Jawabannya adalah karena dia punya alasan mengapa harus hidup ? Sehingga dengan alasan itu dia akan mampu menanggung segala bentuk bagaimana caranya hidup.
Dengan bahasa lain Frankl membuktikan gagasannya sendiri bahwa tugas terbesar manusia adalah mencari makna dalam hidupnya. Termasuk pada saat-saat sulit dan penderitaan dalam kehidupan itu. Dia juga menggambarkan dengan pilu bagaimana para tawanan yang putus asa akan kehidupan yang pahit saat itu dan kehilangan masa depan merupakan orang-orang yang pertama tewas.
Di tengah martabat kemanusiaannya yang sedang di cabik-cabik dan nyawa terancam kapan saja, dia tetap mencari makna akan situasi kehidupannya. Saya tak habis-habisnya sangat takjub, salut luar biasa dan juga sulit percaya ada seorang manusia biasa seperti ini. Tak cuma seorang Dr Frankl tentu saja. Ada mereka yang lain di luar sana yang punya cerita berbeda dalam menemukan makna kehidupan di masa-masa krisisnya.
Selalu memupuk ingatan tentang seorang istri yang begitu dikasihi dan harapan untuk bertemu wanita yang dicintainya itu. Berkumpul kembali dengan orang tuanya setelah terbebas dari camp konsentrasi. Impian untuk menyelesaikan buku-bukunya dan semangat akan berceramah tentang hikmah psikologis yang dapat dipetik dari camp Auschwitz pada saat bebas nanti menjadi alasan-alasan Frankl untuk mengapa bertahan hidup di camp penuh tragedi kemanusiaan itu. Meski nyatanya setelah bebas dia harus mengubur dalam-dalam keinginannya yang terbesar untuk bertemu orang-orang yang sangat dia cintai dan harus menanggung kesedihan kembali. Sebab orang-orang itu pun telah menjadi korban kekejaman Nazi.
Jangan menuntut sesuatu dari kehidupan tapi manusialah yang harus memberikan sesuatu untuk kehidupan tersebut. Kau tak dapat merubah sesuatu yang terjadi padamu, tapi kau dapat memilih bagaimana cara untuk meresponsnya. Itu beberapa pesan bijak Frankl.
Tertawa, tetap memelihara rasa humor nyatanya adalah juga satu resep ampuh untuk tetap menjaga kekuatan dan semangat hidup di masa-masa sulit. Sebab dengan tertawa menyebabkan keluarnya hormon endorfin, hormon pemicu rasa bahagia manusia. Maka tak heran di dalam camp itu pun ada cerita-cerita humor yang mereka buat dan juga panggung sandiwara yang mereka ciptakan sebagai penghibur diri. Bahkan semisal debat, diskusi pun ada di camp konsentrasi. Karena sebagian mereka juga para intelektual dan profesional seperti Dr Frankl. Terbayang oleh saya bagaimana wajah-wajah pedih itu sesaat melupakan pahitnya dunia, larut sementara di dalam dunia sandiwara mereka.
Dan siapa yang menyangka kalau akhirnya Dr Frankl benar-benar terbebas dari kejamnya dunia camp konsentrasi bahkan berumur sampai dengan 95 tahun? Beliau melanjutkan misi kehidupannya dengan berbagai karya dan keahliannya yang begitu diakui, berpengaruh dan bermanfaat buat orang banyak. Tahun 1997 Dr Frankl meninggal dunia.
Sejenak saya melihat pada dunia nyata hari ini. Dunia tengah diteror pandemi Corona dalam 3 bulan terakhir. Perubahan kehidupan pun terjadi, korban jiwa berjatuhan, banyak yang terinfeksi, orang-orang diminta tetap berada di rumah, banyak aturan-aturan, mobilitas terbatas. Banyak negara lockdown dan lain sebagainya yang semua itu nyata-nyata seakan merampas kebahagiaan dan kebebasan kita sebagai manusia. Saat ini kita sedang berada di suatu camp pandemi.
Kenyataan kehidupan yang benar-benar bisa menguras emosi. Di rumahkan, terbatas akses kemana-kemana itu tak enak. Beruntung, Alhamdulillah kita masih bisa bekerja ala WFH. Sebagian mereka mungkin kehilangan pekerjaannya dan tak semujur kita. Berada di rumah, dengan berbagai fasilitas yang mungkin mumpuni masih membuat ada di antara kita mengeluh dan berkata-kata di dunia maya jika bosan di rumah dan sebagainya. Saya jadi teringat para pendiri bangsa, tokoh-tokoh besar dunia, Soekarno, Hatta, Muhammad Natsir, Buya Hamka, dll pernah terpenjara raganya, tapi tidak untuk jiwa dan pikirannya. Di balik jeruji mereka masih memikirkan strategi, berdiplomasi dan berkarya. Inikah yang juga namanya proses pencarian makna?
Di sisi lain, bumi hari ini sejenak dapat beristirahat dari gegap gempita, hilir mudik manusia dan gempuran tiap detik asap hitam knalpot kendaraan mereka. Udara panas seakan teduh sejenak. Bumi adalah warisan bagi anak cucu manusia.
Man’s search for meaning. Manusia mencari makna dalam tiap kehidupan yang dilaluinya. Entah itu dalam suatu suka atau pun duka. Hanya manusia yang bisa melakukannya. Dan bisa jadi, ada berjuta makna lain yang akan terkuak, saat pandemi global ini tak lagi bergerak.
(Selesai)