Wanted! The Leader Who Had No Title

Akhir pekan begini ngomongin tentang kepemimpinan, it’s okay lah ya? Karena  leadership itu perbincangan yang katanya bikin sip. Masa-masa sekolah dulu kalau melihat senior atau teman-teman yang leadership-nya keren, suka bikin iri hati. Terlihat semakin gagah dan menarik saja personality mereka.

The Leader Who Had No The Title adalah salah satu buku filosofi kepemimpinan yang mengesankan. Sungguh ajaib tangan Robin Sharma saat meracik buku-bukunya. Alur cerita yang dikemas bak novel, membuat buku kepemimpinan yang tentu bergenre serius jadi easy reading dan otentik. Jika banyak calon pemimpin dan para pemimpin membaca buku karangan Robin Sharma itu, entah mengapa feeling saya kok mengatakan mereka akan menjadi pemimpin yang handal dan dirindukan selama ini.

Pemimpin itu bukan karena sekadar jabatan yang disandang. Menggugah jiwa pemimpin pada diri meski kita tak punya jabatan ‘wah’ di mata orang lain, sangat jauh lebih penting. Ini yang dimaksud dengan pemimpin tanpa jabatan. Jiwa pemimpin tanpa jabatan inilah yang mesti dibangkitkan pada tiap orang dalam level perannya masing-masing, dan menjadi highlight saya sebagai pesan moral buku itu.

Seperti Anna dan Jet yang dikisahkan di dalamnya. Walau hanya seorang pengurus rumah tangga hotel dan seorang terapis pijat, mereka tak pernah main-main dalam melakoni profesinya. Kecintaan dan tanggung jawab yang besar akan pekerjaan, membawa mereka pada kebahagiaan hidup. Mereka boleh hanya seorang pengurus rumah tangga hotel dan tukang pijat. Tetapi tamu-tamu mereka adalah para pesohor, yang datang ke kota Manhattan, New York. Ya, karena sikap pemimpin tanpa jabatan, pada akhirnya membawa mereka bukan sebagai pekerja hotel dan terapis pijat biasa.

Ada lagi Tommy, Ty dan Jackson. Tommy adalah pria 77 tahun yang semangatnya tak pernah kendur dalam bekerja hanya karena dalih umur. Baginya umur hanyalah cara pikir kita, stigma yang digunakan sekelompok orang untuk menandai orang lain dan membatasi cita-cita mereka. Berulang kali dia menolak diangkat menjadi seorang vice president karena prestasi-prestasi yang ditorehkannya. Pria nyentrik itu ingin membuktikan bahwa bukan jabatan yang membuatnya melakukan performa terbaik. Yang terpenting adalah berkinerja tinggi di setiap posisi yang diterima. Agak langka sih memang dengan kenyataan jaman now, yang maunya naik jabatan tapi kinerjanya pas-pasan.

Ty adalah seorang mantan juara dunia ski yang saat ini menjadi pelatih ski dan memiliki toko alat-alat ski. Menjadi seorang atlet profesional ski banyak mengajarinya tentang belajar menghadapi tantangan kehidupan. Berani menaklukkan curamnya lereng gunung yang dipenuhi salju adalah sesuatu yang harus dilakukan sang juara. Tak ada juara dunia ski yang hanya berdiri termenung di atas puncak menunggu salju mereda.

Selanjutnya Jackson yang seorang mantan CEO sebuah perusahaan teknologi multi miliar dollar berusia 66 tahun. Beralih menjadi tukang kebun di sebuah perpustakaan umum New York di gedung pencakar langit menjadi profesinya kini. Agak ya aneh mendengar ada seorang mantan CEO beralih jadi tukang kebun. Kok mau sih? Enggak gengsi apa dengan mantan anak buah dan para kolega? Berkebun menjadi salah satu keinginan terbesar Jackson, itu alasannya.

Gengsi bukan menjadi alasan seorang pemimpin tanpa jabatan untuk berkarya. Apalagi sebuah pencitraan. Rendah hati merupakan citra diri mereka. Dengan taman- taman bunga cantik yang diciptakannya sebagai seorang tukang kebun, banyak orang yang merasa nyaman, bahagia berada di sana, dan bersemangat kembali setelah penat beraktivitas. Pemimpin tanpa jabatan ingin selalu menghadirkan kebaikan dengan tangan mereka meski melalui profesi sederhana menjadi seorang tukang kebun pada area yang semula terlantar dan tak terurus, seperti yang dilakukan Jackson. Sangat luar biasa dan menyentuh. Mengingat banyaknya orang berpikir kiamat dan tak berdaya atau malah jadi post power syndrome alias merasa turun harga diri saat masuk masa pensiun.

Dan yang menjadi tokoh sentralnya adalah Blake. Seorang veteran perang Irak. Kelima orang tadi menjadi gurunya dalam menjadi seorang pemimpin tanpa jabatan. Berawal dari percakapannya dengan Tommy yang merupakan sang atasan di toko buku. Di kisahkan Blake menjadi seorang yang kehilangan gairah kehidupan setelah kembali dari medan perang. Pengalaman yang pasti tak biasa di sana sedikit banyak mempengaruhi kehidupannya. Baginya pekerjaannya sekarang sebagai pegawai toko buku, tak lebih untuk sekadar melunasi tagihan- tagihan bulanannya saja.

Dengan imajinasi supernya Robin Sharma mampu mengolah kisah fiksi sarat dengan keteladanan dan pengalamannya bertahun- tahun dalam bidang pengembangan manusia dan organisasi. Yang semakin membuat terbelalak saat disebutkan jika pola kepemimpinan kuno adalah pemimpin yang lebih banyak berbicara. Pemimpin modern adalah tipe pemimpin yang lebih banyak mendengarkan. Mampu dan mau mendengarkan masih menjadi sesuatu yang langka, termasuk saat seseorang jadi pemimpin. Karena ia berkorelasi dengan ego dan empati diri.

Sejalan dengan pemahaman  kami di ranah coaching. Mendengarkan adalah pintu gerbang melakukan sesi coaching. Mendengarkan menjadi suatu latihan yang tak mudah dalam kelas-kelas workshop coaching. Mendapati diri mereka sudah mulai bisa mendengarkan, sering membuat para leader yang ikut workshop merasa takjub, betapa bedanya mendengar dan mendengarkan itu sesungguhnya.

“Dan, apa jadinya jika para pemimpin itu mampu mendengarkan? Sesuatunya akan bergerak menjadi lebih baik.”

Menjadi pemimpin tanpa jabatan juga punya syarat dan ketentuan yang berlaku. Sebagai bocoran sedikit, ada empat elemen filosofi di dalamnya. Pertama, kita tak butuh jabatan untuk menjadi pemimpin. Dua, masa-masa bergejolak melahirkan pemimpin hebat. Tiga, semakin dalam hubunganmu semakin kuat kepemimpinanmu. Dan keempat untuk jadi pemimpin besar jadilah orang besar terlebih dahulu. Akronim-akronim yang menggambarkan bagaimana sosok  pemimpin tanpa jabatan merupakan sisi lain keunikan buku itu.

Pemimpin tanpa jabatan mengajarkan untuk mengutamakan nilai-nilai kepemimpinan di atas jabatan. Mengajarkan tanggung jawab, etika, visi, pada tiap orang dengan apa yang dilakukannya. Nilai-nilai spiritual adalah nilai yang tak terpisahkan dari seorang pemimpin tanpa jabatan. Maaf, jika seorang tukang kebun sederhana saja nantinya sudah melakukan nilai-nilai kepemimpinan dalam tugasnya, apalagi orang-orang yang berada di posisi puncak?

Tak bisa dipungkiri rasa prihatin yang terselip di hati ini sebagai anak bangsa terkait  kepemimpinan di berbagai wajah negeri kita. Jika diikuti jiwa pemberontak ini, rasanya keluh kesah sumpah serapah mungkin sudah sepanjang jalan dan sedalam lautan dilakukan. Namun yang kemudian saya pahami bahwa revolusi mental terbaik adalah mulai dari diri sendiri.

Saya sangat tertarik dengan konsep memimpin tanpa jabatan. Dan berhasrat nilai-nilai tersebut dapat terinternalisasi. Karena saya adalah pengaruh paling nyata untuk diri sendiri. Maka teriakan-teriakan kencang tentang itu lebih baik ditujukan untuk diri sendiri juga. Sudah pasti tak semua kita bisa jadi CEO, direktur, dewan komisaris, kepala sekolah, rektor, gubernur, atau presiden dan lainnya. Namun selalu ada lowongan menjadi seorang pemimpin tanpa jabatan dengan masing-masing profesi kita. Bahkan dimungkinkan pula jadi pemimpin sepanjang masa. Sebab ini adalah tentang The Leader Who Had no Title.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *