Dudukan Goalnya Bagian 2

Terima kasih atas respons yang teman-teman berikan pada tulisan bagian pertama kemarin. Saya menangkap kemiripan pesan yang disampaikan jika sang coach belumlah melakukan sesi coaching seutuhnya. Pertanyaan dan respons yang dilakukan masih terdengar asumtif, menilai, kepo, mengarahkan, pertanyaan berlapis, pertanyaan tertutup dan tak mendudukkan goal dengan tepat. Bahkan coach sendirilah yang seakan menyimpulkan goal yang akan dicapai coachee (lihat pertanyaan ketiga coach di tulisan sebelumnya). Fatal sekali jika seorang coach melakukan hal ini. Motif dari goal pun tak tampak dieksplorasi.

Jika sesi coaching yang dilakukan seperti itu sangat wajar rasanya setelah coaching si coachee merasa lelah dan pusing jadinya. Bukannya mendapat insight dari tujuan yang ingin dicapai, tapi malah diajak mutar ke sana ke mari dengan pertanyaan yang tidak powerful. Ujung-ujungnya coachee bisa merasa kapok di coaching karena merasa dikepoin, dinilai, diarahkan atau dikulik urusan pribadinya, seperti ilustrasi tersebut.

Alkisah sang coach, atas dorongan Pak Henry Gultom akhirnya belajar coaching di www.coachbasbas.com dan sedang berada di level Internediate.

Mari kita simak ilustrasi percakapan yang dilakukannya:

Coach:  Baik Pak Budi, jadi apa nih topik yang akan kita bincangkan di sesi coaching kita hari ini?

Coachee: Terima kasih coach sebelumnya. Begini coach, saya kan ini lagi WFH ya, sudah lebih setahun ini lebih banyak WFH. Seru juga sih coach, jadi gak harus tiap hari berangkat pagi-pagi ke kantor. Tapi yang gak serunya coach kok saya merasa semakin kesini badan saya semakin membesar ya?

Coach: Pak Budi saya mendengar Pak Budi mengatakan saat ini lagi WFH, ada keseruan dan ada tantangan di dalamnya. Terkait hal itu apa spesifik goal yang ingin Pak Budi dapatkan di sesi ini?

Coachee: Hmm. Iya coach begini ya sebenarnya saya ingin bagaimana tetap rutin bisa berolahraga biar pun sedang WFH.

Coach: Saya mengapresiasi keinginan Pak Budi ini. Di akhir sesi coaching kita nanti apa yang menjadi ukuran sukses terkait dengan Pak Budi ingin bagaimana tetap bisa rutin berolahraga biar pun sedang WFH?

Coachee: Ya coach, artinya saya ingin tahu bagaimana caranya agar saya bisa termotivasi untuk kembali rutin berolahraga.

Coach: Oke Pak Budi, apa sih pentingnya Pak Budi tahu bagaimana caranya agar termotivasi untuk kembali rutin berolahraga?

Coachee: Penting banget coach buat saya. Karena selama ini kok saya seperti kehilangan cara untuk termotivasi agar rutin olahraga. Padahal saya tahu olahraga itu penting banget kan ya?

Coach: Saya mendengar awareness Pak Budi akan pentingnya olahraga. Pada skala 1-10, dimana 1 artinya Pak Budi belum tahu caranya agar termotivasi untuk kembali rutin berolahraga, dan 10 berarti pak Budi sudah tahu cara agar termotivasi untuk kembali rutin berolahraga, dimana posisi Pak Budi saat ini?

Coachee: Hmm, 6,5 coach sepertinya.

Coach: Apa arti angka 6,5 itu?

Coachee: Artinya saya belum banyak tahu caranya agar termotivasi dan kembali rutin olahraga.

Coach: Bagaimana perasaan Pak Budi berada di angka tersebut?

Coachee: Penasaran dan kurang nyaman rasanya coach.

Coach: Pak Budi merasa kurang nyaman dan penasaran ya. Dalam jangka pendek terkait pencapaian goal Pak Budi itu, ke angka berapa yang ingin dituju?

Coachee: (Tertawa), 9 coach, i love 9.

Coach: Apa arti angka 9 itu Pak Budi?

Coachee: Artinya saya sudah benar-benar tahu cara untuk termotivasi dan kembali rutin berolahraga.

Coach: Oke. Apa yang Pak Budi rasakan jika Pak Budi mencapai angka 9 itu?

Coachee: Amazing coach, bahagia, dan merasa sangat sehat pastinya.

Coach: Saya melihat rasa bahagia dan energi itu dari diri Pak Budi. Apa kekuatan dalam diri Pak Budi yang bisa membuat Pak Budi mengetahui cara untuk termotivasi dan kembali rutin berolahraga?

Coachee: Kekuatan saya adalah ingin hidup sehat  dan saya sebenarnya suka olahraga.

Coach: Jika Pak Budi kaitkan kekuatan ingin hidup sehat dan suka olahraga ini dengan goal ingin mengetahui cara dan termotivasi untuk kembali rutin olahraga, bagaimana Pak Budi melihatnya?

Coachee: Hmm, artinya saya sebenarnya punya kemampuan dan kekuatan untuk bisa mencapai apa yang saya inginkan itu coach.

Coach: Saya mengapresiasi awareness yang Pak Budi sampaikan. Apa tantangan dari dalam diri Pak Budi untuk mengetahui cara termotivasi untuk kembali rutin berolahraga?

Coachee: Tantangan dalam diri itu kesibukan, waktu yang rasanya habis untuk bekerja coach dan saya jadi lelah karenanya.

Coach: Apresiasi untuk kejujurannya Pak Budi. Apa peluang dari luar diri yang bisa dimanfaatkan untuk Pak Budi mengetahui cara termotivasi untuk kembali rutin berolahraga?

Coachee: Keluarga sepertinya coach. Istri saya itu saya lihat olahraganya rutin ya dan sangat sering mengajak dan mengingatkan saya untuk olahraga juga.

Coach: Jika Pak Budi tahu caranya termotivasi untuk kembali rutin berolahraga, apa yang istri Pak Budi rasakan?

Coachee: Wah pastinya beliau senang sekali coach. Sebab itu yang juga beliau inginkan pada saya.

Coach: Apa tantangan dari luar diri yang bisa menghalangi goal Pak Budi untuk tahu cara termotivasi untuk kembali rutin berolahraga?

Coachee: WFH ini salah satunya coach. Jadinya seakan-seakan saya gak punya jam kerja. Kalau kerja di kantor kan jelas jam ngantornya. Jadinya waktu banyak habis untuk urusan kerjaan dan ngurusi tim kerja.

Coach: Baik Pak Budi, dari perbincangan kita sehauh ini terkait dengan goal Pak Budi ingin mengetahui cara termotivasi untuk kembali rutin berolahraga, apa yang Pak Budi temukan?

Coachee: Ya coach, saya jadi melihat sebenarnya saya memiliki kekuatan-kekuatan untuk tahu cara termotivasi untuk kembali rutin berolahraga, selain tantangan yang saya miliki. Kenapa tidak saya berfokus saja pada apa yang menjadi kekuatan saya untuk mencapai apa yang saya inginkan itu?

Coach: Pak Budi saya mendengar semangat dan optimisme yang semakin tinggi dari dalam diri Bapak untuk mencapai goal yang diinginkan. Apa bentuk tindak lanjut yang terpikir dari temuan tadi agar pak Budi mengetahui cara termotivasi untuk kembali rutin berolahraga?

Coachee: (Tertawa) Kenapa saya harus tunda untuk langsung aja pemanasan dulu dengan alat olahraga di rumah, setelah sesi coaching ini coach.

Coach: Selain itu apalagi yang terpikir oleh Pak Budi?

Coachee: Saya pindahin alat olahraga ke lantai 2, agar dekat dengan ruang kerja dan kamar saya. Dan mengoptimalkan dukungan keluarga agar semakin menguatkan motivasi saya.

Coach: Baik Pak Budi saya mengapresiasi temuan ini. Dan dari nada suara Bapak saya mendengar rasa antusiasme. Jika Pak Budi mengombinasikan ketiga temuan tadi, hal apalagi yang Pak Budi temukan?

Coachee: Hmm, saya jadi kepikiran ini nih dengan pertanyaan ini coach. Saya akan mengajak keluarga untuk memindahkan alat olahraga ke lantai 2 dan sekaligus menjadwalkan untuk olahraga bersama.

Bagaimana para pembaca dengan versi pertanyaan coach di atas? Siapa yang bilang pertanyaan coach-nya gua banget nih?

Ya, semakin kita memahami kaidah coaching, intuisi kita akan semakin jeli melihat mana percakapan coaching dan yang bukan. Pertanyaan eksploratif tergambar di sana. Respons mendengarkan seorang coach terdemonstrasi. Dan yang utama goal beserta motifnya jelas tereksekusi.

Untuk menjadi perhatian bahwa ukuran sukses dari spesifik goal menjadi goal dalam sesi coaching. Sehingga coach mesti cermat dalam memahami hal ini. Sebab terkadang banyak kekeliruan terjadi di area ini.

Seorang coach adalah cermin bagi coachee. Artinya jika coach merasa coachee-nya seperti berbicara berputar-putar di sesi coaching, langkah yang baik dalam hal ini yang coach lakukan adalah silahkan untuk melakukan refleksi diri/self check atas kualitas pertanyaan yang diajukan.

Mungkin sebagian kita mendapati ada beberapa pertanyaan yang belum terdengar familiar. Betul sekali, karena beberapa pertanyaan tersebut menggunakan teknik zoom in, zoom out dan scamper yang menjadi salah satu tools percakapan coaching di level Intermediate. Dalam level Advance apalagi Expert, seorang coach sudah melakukan percakapan yang begitu mengalir, dancing at the moment with coachee, istilahnya dalam coaching.

So, selamat terus melakukan percakapan coaching dengan bahagia sahabat.  Dan ingat selalu untuk dudukkan goal-nya.

(Selesai)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *