Karena dianggap bagian yang kotor, benda yang keluar dari alat pembuangan manusia ini sering terlewatkan untuk disyukuri atau bahkan tidak disyukuri sama sekali.
Bagi mereka yang lancar BAB nya ( buang air besar) dan suatu ketika BAB jadi agak macet sehingga jadi butuh effort saat mengeluarkannya, adalah nikmat yang luar biasa setelah mampu melewati saat- saat “genting” itu. Plong, lega, nikmat sekali rasanya melebihi apapun ketika itu. Setelah berbagai afirmasi dilakukan saat nongkrong tadi.
Bersyukur jadwal pembuangan saya sangat teratur. Makanya kala dia terasa macet, saya lantas berpikir what wrong? Barulah bisa merasakan bagaimana tak nyamannya agak lama di kamar mandi. Lantas juga sekelebat berpikir, baru sekali- sekali seperti ini saja sudah uring-uringan. Nah orang lain sering hari-harinya diisi dengan problematika tak lancar BAB, bagaimana lagi?
Izin sebelumnya jika ada yang merasa jijik dan tak nyaman dengan pembahasan BAB ini. Tapi inilah faktanya bahwa benda yang banyak kita ogah melihat bentuknya ini pun sebuah anugerah dari Tuhan yang mesti kita syukuri kehadirannya.
Beberapa waktu lalu saya membaca ulang buku The Magic. Pagi itu saya memilihnya dari deretan buku lainnya. Secara spiritual,katanya ini bukanlah sebuah kebetulan semata. Mungkin ini ada kaitannya juga dengan saya yang sedang agak sangar waktu itu.
Bagi yang sudah pernah membaca buku ini pasti sudah mengetahui tema besar yang diangkat yaitu bersyukur. Buku ini juga mengutip bagaimana penting atau utamanya bersyukur dari berbagai kitab suci. Kitab suci yang saya imani pun ada jadi referensi.
Bersyukur adalah segala- galanya. Dia obat keangkuhan,kesombongan, kerakusan, dia adalah anti kemiskinan dan keterpurukan. Bersyukur pemicu kesehatan, pembuka rezeki. Bersyukur adalah pintu perdamaian, kasih sayang dan harmonisnya relasi. Begitu dahsyatnya side effect dari bersyukur ini. Jangan- jangan diri ini, dunia ini masih jauh dari bersyukur!! Serta- merta pikiran saya berbisik.
Pas segala sesuatunya berjalan baik dan mulus bak jalan tol baru, rasanya akan sangat mudah bersyukur. Itupun akan terasa sulit juga buat sebagian orang. Pada saat kesulitan menghimpit dan semua orang pada menjauh seperti musuh, bagaimana caranya mau bersyukur? Apa yang harus disyukuri sedangkan diri ini sudah jatuh tersungkur? Apa yang mau disyukuri sebab hari- hari terasa gelap seperti kata para mahasiswa dan demonstran. Bagaimana mau bersyukur kalau anak isteri menjerit di rumah karena pahitnya ekonomi?
Ceramah bersyukur itu mudah , tapi lakonnya susah .
Kembali pada buku The Magic tadi, apa pun kondisi kita, maka bersyukur adalah jawabannya. Bersyukur betul- betul memberi keajaiban. Dunia ini berlaku hukum tarik menarik. Makin bersyukur akan makin berlimpah. Saya memaknainya bahwa dengan bersyukur energi positif akan membuncah. Jika energi positif membuncah, maka gairah untuk merecovery keterpurukan pun memuncak. Yang paling sangat menarik ketika sang penulis sendiri. Rhonda Bryne, telah membuktikannya dengan segala keterpurukan yang dia alami. Saya merasa percaya tak percaya. Tapi begitulah kenyataannya.
Di tingkat yang semakin tinggi, bersyukur bukan hanya pada hal-hal materi yang darang menghampiri. Sering kita mengabaikan atau bahkan tidak peduli pada anugerah- anugerah Tuhan yang gratis yang bahkan sudah kita pergunakan sejak dulu. Lihat saja diri kita. Masihkah kita mempunyai panca indera? Masihkah kita bisa menghirup udara? Atau seperti tadi,masihkah kita bisa BAB? Karena tak sedikit orang yamg harus berurusan ke rumah sakit karena persoalan ususnya yang tak lagi lancar. Pencernaan yang tidak baik adalah cikal bakal penyakit. Makanya sàat diminta untuk menuliskan karunia yang disyukuri di buku itu, saya membuat BAB salah satunya.
Lantas kalau BAB saja adalah anugerah bagaimana dengan fenomena orang-orang yang rakus harta dan jabatan sehingga tak punya nurani lagi untuk korupsi milyaran dan triliunan? Mereka bukan orang susah yang tak bisa makan. Mereka bukan orang miskin yang diuber-uber karena belum bayar rumah kontrakan. Jika BAB saja disyukuri, bagaimana mereka tak cukup bersyukur atas jabatan yang dimiliki,bahkan ingin terus melanggengkannya sampai tujuh generasi? Orang- orang masih susah cari kerja, masih tidak bersyukur dengan jabatan, fasilitas negara yang dibayar pakai pajak rakyat. Jika BAB saja disyukuri, bagaimana masih tidak bersyukur dengan anak isteri, keluarga harmonis yang diimiliki dengan masih saja suka melirik rumput tetangga yang terlihat lebih hijau?
Apa memang inikah dampak dari tiadanya rasa syukur? Rasa kekurangan terus menerus yang membawa pada sifat culas rakus bahkan pertumpahan darah dan peperangan? Peperangan yang terjadi hari ini telah membinasakan banyak nyawa. Seandainya semua orang telah binasa,hanya tinggal dia dan kelompoknya saja yang ada di bumi, yakinkah mereka tidak akan berperang juga? Selama tidak bersyukur atas keberadaan orang lain, peluang peperangan tetap terbuka.
Apa konon ini yang dimaksud dengan miskin dan fakir itu sesungguhnya? Orang- orang yang tidak pernah merasa cukup meski sudah berkalang kenikmatan seluruh raganya, tapi gersang di hatinya. Katanya hukum semesta itu pasti. Bersyukur membawa nikmat. Kufur membawa laknat. Apakah diri ini baru mau belajar bersyukur setelah tak bisa BAB? Setelah semua kenikmatan tak penting lagi dan terasa hambar, hanya ingin lancar BAB saja ?Sebab diri yang sudah teramat sangat lelah karena hari-hari berurusan dengan seabrek obat pencahar. Saya harus terus belajar untuk bersyukur, karena bisa BAB saja sudah anugerah terindah !