Manusia dan Mendengarkan

Bahkan semenjak dari kecil orangtua sudah sering membanggakan anaknya yang cepat bisa berbicara. Mereka akan terus memberikan stimulus agar anak- anak tersebut bisa ngoceh terus. Ocehan yang acap mengundang tawa dan gemas pada diri sang bocah

Ternyata bukan tanpa sebab hal itu hadir. Mampunya si anak mengoceh dan berkata- kata tak lain juga menandakan berfungsinya indera pendengarannya. Meski mungkin kausalitas ini jarang disadari orang tua, karena yang terpenting baginya buah hatinya bisa berbicara. 

Sebegitu pentingnya mampu mendengar untuk seseorang bisa berkata’-kata dan berbicara . Meski seolah dalam ril kehidupan ini mereka yang vokal beretorika dianggap lebih kompeten dan percaya diri ketimbang mereka yang lebih senang mendengarkan dalam hening. Mereka yang suka berbicara dianggap lebih ramah. Padahal pada kenyataan nya mampu mendengarkan dengan baik berarti juga mampu menyerap informasi, belajar lebih banyak, dan berpikir lebih bijak. Di sisi lain orang yang hobi berbicara sering kali sulit untuk mendengarkan.

Namun entah mengapa kebijaksanaan untuk bisa mendengarkan ini seakan semakin tersingkir di panggung kehidupan. Sedangkan secara fitrah Tuhan memberikan dua telinga dan hanya satu mulut pada manusia. Apa makna dari penciptaan ini selain sudah sepatutnya manusia untuk lebih banyak mendengarkan daripada omon-omon atau berbicara?

Mendengar vs Mendengarkan

Mendengar ( hearing) adalah proses fisiologis pasif, gelombang suara masuk ke dalam gendang telinga kita. Mendengarkan ( listening) adallah proses aktif keterlibatan intelektual dan emosional secara sadar untuk memahami pesan secara utuh baik yang tersurat dan tersirat. Mendengarkan bukanlah berarti manut- manut alias enggih- enggih wae, atau membebek atas apa yang disampaikan seseorang.,sebab kita bukan robot. Mendengarkan bukan pula sekadar menunggu giliran berbicara. Lebih dari itu semua. Mendengarkan adalah tentang memahami pesan yang disampaikan. Mendengarkan adalah tentang empati. Mampu menangkap berbagai warna emosi yang yang muncul maupun yang tersembunyi. Lebih mendalam lagi mendengarkan itu tentang ekspresi bahasa cinta. Mendengarkan itu tentang memanusiakan manusia. 

Di manakah posisi Anda saat ini, mendengar atau mendengarkan? Bagaimana cara mengukurnya? Jika seseorang hanya bisa menangkap suara atau bunyi tanpa menangkap maksud atau pesan dari suara tersebut, itulah mendengar. Seekor burung beo juga mampu mendengar bahkan mampu menirukan dengan fasih ucapan manusia. Namun tak mampu memaknai pesan di dalamnya, emosi , intensi di balik kata- kata tersebut.

 Di era distraksi digital ini, di mana hingar bingar suara seolah tiada hentinya terjadi di layar ponsel dan laptop kita, kemampuan mendengarkan akan semakin terkikis dan tumpul secara sistematis. Secepat kilat orang akan melirik dan menyambar ponselnya ketika notifikasi berbunyi,menginterupsi percakapan hangat dengan seorang kolega yang baru saja dimulai. Seketika tatapan mata itu terabaikan. Di ruang konfrensi atau seminar yang terjadwal pun, jari- jari itu masih terlihat lincah berselancar di layar petak tanpa menaruh peduli dengan sesosok manusia yang tengah berbicara di sana.  

Ego seringkali menjadi tembok kita menyelami perspektif orang lain. Kita hadir secara fisik tapi sayangnya absen secara mental. Hingga tak berempati pada curahan rasa dan pikiran orang lain. 

Ilustrasi Mendengar dan Mendengarkan.

Mari kita lihat contoh percakapan berikut ini.

Murid: ” Bu, saya sudah coba menyenangi pelajaran ini, tapi kok hasil nilai saya masih jelek seperti ini.

Guru: ” Kanu itu perlu lebih serius lagi belajarnya ya. Kanu tahu kan kalau pelajaran ini penting. Lebih serius lagi lah ya,..jangan banyak main hp.”

Suami: ” Ma, weekend nanti kita olah raga yuuk? Kok badan ini terasa gampang capek ya sekarang!’

Isteri: ” Tuh kan papa, masih muda udah sakit- sakit badannya. Makanya papa itu kalau makan dibanyakin sayurnya kurangi ngopi. Papa sih suka ngeyel kalau dibilangin.”

Bawahan: ” Pak maaf,bulan ini saya tidak capai target lagi karena di tim saya sepertinya ada sesuatu yang terjadi.”

Atasan : ” Kamu ini gimana sih, kok gak becus ngurusi anak buah? Saya ini yang diurus banyak lho. Saya gak mau tahu bulan depan jangan nyungsep seperti ini lagi!”

Pasien : ” Dokter, kok saya jadi takut ya dioperasi, apa tidak ada alternatif lain dulu dok?”

Dokter : ” Ibu mau sembuhkan? Jangan takut- takut lah. Biasa ini bukan operasi besar.”

Rakyat : ” pemerintah memang tidak becus ngurus rakyat. Masak semua- semua serba susah sekarang. Apa- apa mahal, uang sekolah mahal.”

Pemerintah : ” Jangan sembarangan kalau ngomong Pak. dijaga ucapannya. Jangan karena calon yang bapak usung kalah, terus jadi semua serba salah di pemerintah sekarang..”

Jika diteruskan penggalan dialog tersebut tak menutup kemungkinan terjadinya ketidaknyamanan satu sama lain. Bukan terjadi pemahaman tetapi malah menyulut percekcokan atau friksi. Sebab pesan inti yang tak tertangkap. 

Sekarang bagaimana jadinya jika penggalan percakapan di atas memuat unsur mendengarkan. Mari kita simak kembali.

Murid:”Bu, saya sudah coba menyenangi pelajaran ini, tapi kok hasil nilai saya masih jelek seperti ini.”

Guru : “Ibu hargai keterbukaan dan keberanian mu menyampaikan ini. Bagian mana yang masih terasa sulit bagi mu?”

Suami: ” Ma, weekend nanti kita olah raga yuuk? Kok badan ini terasa gampang capek ya sekarang!’

Isteri : ” Wiss papa, salut mau olah raga lagi. Badan papa itu capeknya seperti apa?”

Bawahan: ”  Pak maaf,bulan ini saya tidak capai target lagi karena di tim saya sepertinya ada sesuatu yang terjadi.”

Atasan: ” Oke..saya terima apa yang kamu sampaikan dan akan kita jadwalkan pertenuan khusus untuk ini. Apa persisnya yang kanu maksud dengan ada sesuatu yang terjadi dengan tim mu?”

Pasien : ”  Dokter,  kok saya jadi takut ya dioperasi, apa tidak ada alternatif lain dulu dok?”

Dokter : ” Saya dapat memahami perasaan ibu tentang hal ini. Alternatif lain ibu harus terus minum obat, tetapi ibu sampaikan kemarin tidak mau seperti itu. Apa yang saya bisa bantu untuk ibu dalam memilih dua hal ini?”

Rakyat : ” pemerintah memang tidak becus ngurus rakyat. Masak semua- semua serba susah sekarang. Apa- apa mahal, uang sekolah mahal.”

Pemerintah : ” saya dapat mendengarkan ketidaknyamanan yang bapak rasakan. Kondisinya sekarang mungkin tidak sama untuk semua orang. Apa yang bisa kita kolaborasikan bersama untuk menjawab kegelisahan Bapak tadi?” 

Bagaimana Anda melihat perbedaan dua jenis penggalan dialog tersebut? Mana jenis dialog yang membuat seseorang merasa lebih didengarkan dan dihargai sebagai manusia? 

Mendengarkan Dalam Berbagai Ruang. 

Hari-hari ini mungkin saja banyak gejolak dan riak timbul yang sebenarnya adalah akumulasi dan ekses dari suara- suara yang merasa tidak didengarkan. Tak hanya di ruang personal dan profesional, ia pun merebak luas di lingkungan sosial dan negara.. Maraknya kibaran bendera One Piece yang menghebohkan itu,  ” kegaduhan” isu dugaan ijazah palsu seorang mantan presiden yang terus bergulir, baik dari pihak yang menduga maupun pihak yang terduga,  dengungan wacana pemakzulan wakil presiden oleh suatu bagian masyarakat, jika tiap kita mendengarkan dengan empati,  suara hati apa yang ingin mereka sampaikan sebenarnya? Atau yang lebih menjejak dan di depan mata, pasangan Anda yang sudah beberapa hari ini terlihat bad mood terus, di atas semua itu pesan apa yang sebenarnya yang ingin dia ucapkan?

Mendengarkan itu sejatinya bukanlah sebuah pilihan. Namun ia adalah komitmen berkelanjutan yang akan mampu menghubungkan dan menyambungkan dimensi- dimensi kemanusiaan. Mendengarkan itu sejatinya menembus lebih dalam di balik dinding kata-kata yang terucap. Mendengarkan mendalam itu mampu mendiagnonis masalah sebelum ia menjadi krisis parah. Mendengarkan itu mampu membangun kokohnya fondasi kepercayaan. Jika sudah terhubung , tersambung, dan saling percaya keajaiban apa rasanya yang tak mungkin bisa diraih? Karena sesungguhnya semua berawal dari kesenyapan yang penuh pemahaman di dalam ruang mendengarkan.

Picture of Ida Syafrida, PCC - Coach IdaSya
Ida Syafrida, PCC - Coach IdaSya

Founder Coaching Untuk Negeri Professional Certified Coach (PCC) yang juga berlatar belakang sebagai pendidik. Bersama Coach BasBas, ia menginisiasi gerakan Coaching Untuk Negeri dengan visi memasyarakatkan coaching sebagai alat transformatif untuk memberdayakan individu dan komunitas di seluruh Indonesia.

4 komentar untuk “Manusia dan Mendengarkan”

    1. Terima kasih Bu Rosmawati telah membaca artilel tsb dan memberikan komentar nya. Betul sekali menyimak itu bahasa lainnya adalajh mendengarkan ya

    1. Terima kasih Bu Rosmawati telah berbagi pengetahuan. Ternyata keterampilan menyimak itu ada dibagian pertalma ya…

      Salam sukses selalu buat Bu Rosmawati dan Kampus UMN Alwasliyah..

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *