Akibat Pendidikan

Sebab sebuah harapan dan optimisme maka seorang petani tetap menanam padinya, meski dia tahu burung-burung akan juga terus mendatangi sawahnya untuk makan gratis. Karena sebuah harapan jualah orang menempuh pendidikan atau belajar. Jika tidak, mana mungkin rombongan emak-emak sudah mulai sibuk menyekolahkan anaknya bahkan pada usia-usia dini. Berbagai macam harapan ditabur di masa depan, agar sang anak menjadi orang sukses. Demi merubah nasib keluarga agar kelak mendapat pekerjaan yang lebih baik dengan pendidikan. Harapan inilah yang menjadi tujuan dan semangat.

Namun lebih dari itu pernahkah kita sedikit  menelaah  tujuan dari pendidikan nasional yang tertuang dalam undang-undang Sistem Pendidikan Nasional nomor 20 tahun 2003 pasal 3? Sebab sebagai subjek pendidikan, kita layak tahu apa tujuan pendidikan tersebut diberikan. Ini bukan sekadar perlu diketahui oleh para pendidik, mereka yang berkecimpung di dunia sekolah dan kampus. Meski pada prakteknya tak jarang juga mereka yang tak ambil pusing akan hal ini.

Dalam UU no 20  tahun 2003  Sistem Pendidikan Nasional  pasal 3 dikatakan, tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis  serta bertanggung jawab.

Apa yang muncul di benak sesaat nembaca isi UU Sisdiknas tersebut dengan cermat? Kalau saya  : ” ngeri” !! Sejurus saya terpikir sudahkah tujuan itu tercernin pada diri saya? Atau yang lebih besar lagi,sudahkah ia  tercermin pada anak- anak bangsa ini? Jawabannya makin  bikin ngeri- ngeri sedap.

Kata- kata menjadi manusia beriman, berrtaqwa, berakhlak mulia, apa indikasinya? Ini bukan sekadar teori indah di atas kertas.  Ini seharusnya membuat kita “merinding”. Merinding karena tawuran siswa tak pernah usai hingga kini. Buliying semakin menjadi-jadi seolah mereka adalah orang- orang liar bukan pelajar! Di i sekolah dan kampus  banyak terjadi kecurangan. Mengapa ada para pendidik yang tega mesum, berbuat asusila pada anak didiknya? Atau siswa yang kurang ajar terhadap gurunya seperti yang marak di berita-berita. Mengapa bangsa kita masih jauh level kejujurannya? Mengapa banyak ditemukan sekolah yang lingkunganya kotor apalagi toiletnya !

Bagaimana dengan sehat,berilmu, cakap, kreatif dan mandiri? Kita dikejutkan dengan kejadian banyaknya anak, remaja, orang- orang sangat muda negeri ini  yang sudah terkena diabetes,, obesitas, gagal ginjal dan harus cuci darah akbat pola makan yang  tak benar, fast food,,dan mengunsomsi banyak gula pada minunan kemasan serta banyak rebahan. Apa yang membuat mereka tidak menyadari bahwa kebiasaan itu bisa merusak kesehatannya? Padahal mereka belajar biologi, kesehatan jasmani, kimia di sekolah.

Belum lagi trend kebiasaan nongkrong, kongkow hingga larut malam  anak-anak muda di warung-warung kopi. Yang itu semua tidak sehat. Bagaimana esoknya mau kreatif, tokcer, bersemangat untuk belajar kalau badan terasa loyo dan mata mengantuk?  Kebiasaan tak sehat lainnya,  penggunaan hp dan media sosial yang cenderung buang-buang waktu dan mengakibatkan brain rot. Bagaimana lagi mau berpikir kritis, jika otaknya terbiasa dijejali dengan suguhan yang remeh temeh dan receh? Sehingga pada akhirnya seringkali mengakibatkan pada pemikiran-pemikiran dangkal yang merugikan.

Selanjutnya menjadi warga yang demokratis, mandiri dan bertanggung jawab. Bagaimana kita melihat poin ini pada diri anak bangsa sekarangi? Perkelahian pelajar,,emosi- emosi sumbu pendek, saling ejek yang menyebabkan baku hantam menandakan lemahnya dialog, menghargai dan komunikasi positif pada diri mereka. Padahal mereka ini anak-anak sekolahan bukan berandalan atau preman pasaran.

Tentang bertanggung jawab? Dalam bukunya yang apik The Success Principle, Jack Canfield  menempatkan rasa bertanggung jawab di posisi teratas dalam suksesnya seseorang di kehidupan. Artinya  tanggung jawab adalah modal utama  seseorang untuk sukses. Kalau kita kaitkan hal ini dengan perangai para pelajar dan masyarakat kita bagaimana?  Masihkah kita melihat orang- orang melanggar berbagai aturan di jalanan? Masihkah kita sering mendapati situasi, anaknya yang sekolah tapi ibunya yang harus terus membangunkannya setiap pagi? Masihkah para guru/dosen menemukan siswa/mahasiswanya ogah-ogahan dalam belajar? Kalau sedari kecil saja dengan tanggung jawab yang masih sederhana sudah sengkarut,apalagi membayangkan ke depannya dengan tanggung jawab yang semakin besar.

Mungkin saja situasi yang tengah dialami negeri  yang katanya sedang gelap ini  adalah buah besar dari tidak dipahaminya esensi dari pendidikan itu sesungguhnya sejak lama. Orang-orang belajar ke jenjang yang lebih tinggi karena gengsi,bukan karena ingin berprestasi. Jika sebagai orang yang terdidik  berkesadaran iman, taqwa, akhlak mulia, dan tanggung jawab, mungkinkah korupsi kian menjadi- jadi  seperti saat ini? Akankah para pegawai bekerja malas- malasan dan lebih banyak main hp?  Sudikah tangan-tangan masyarakat  buang sampah seenaknya yang menyebabkan banjir, dan hutan- hutan digunduli?  dll.

Maka sesungguhnya tujuan pendidikan nasional itu mesti benar-benar di install dan mendarah daging bagi rakyat negeri ini agar mereka memahami apa tujuan mereka itu dididik Jika orang-orang berpendidikan sama saja tingkahnya dengan yang tak berpendidikan maka  tak usah berharap banyak dengan pendidikan.Tak usah berharap banyak untuk negeri ini bisa terlepas dari kong kalikong  di segala penjuru. Tak usah banyak impian di republik ini. Sebab meski cerdas dan handal, Anda bisa digeser oleh anak orang yang punya deking dan kekuasaan meski mereka tak punya skill.

Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana menginstall tujuan oendidikan nasional itu agar bisa mendarah daging?  Caranya adalah dengan membangun sebuah kesadaran yang akan menggugah  rasa tanggung jawab, komitmen  dan tindakan- tindakan yang dilakukan melalui dialog/percakapan transformatif. Yang ini semua akan dimaintain atau dijaga dalam sebuah budaya berkelanjutan dalam melakukan seluruh prosesnya. Jika dilakukan dengan benar bukan semata kejar setoran, pendekatan ini mampu memperbaiki sikap dan prilaku.

Saya berimajinasi melihat wajah nusantara ini  seandainya rakyatnya adalah orang-orang  berpendidikan yang prilakunya merefleksiikan tujuan pendidikan bangsa ini. Artinya bahwa mereka adalah individu yang menyatu kuat dengan nilai-nilai dan essensi oendidikan itu sendiri.  Di masa depan mereka  akan  sulit dan tak mempan lagi dengan iming- iming dan sogokan saat ada kontentasi / pemilihan apapun atau kong kalikong penyelewengan wewenang. Tak kan terkecoh dengan kepalsuan dan pencitraan. Mereka tak kan sudi dapat ijazah tapi tak pernah bersekolah. Sebab pendidikan telah membawa meteka menjadi manusia beriman, bertanggung jawab bertaqwa  dan berakhlak mulia, cerdas berilmu. Aah akankah optimisme saya ini berlebihan? Mungkin ini pun akibat “ulah” pendidikan.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *