Pernah mengalami kebingungan membuat pertanyaan yang memberdayakan saat coaching? Merasa seolah pertanyaan yang diberikan mutar-mutar dan bolak-balik di situ saja? Ini sebenarnya kabar baik, pertanda Anda terus mempraktekkan coaching dan menyadari situasi ini. Saya juga pernah mengalaminya. But no worry, kita akan mengupasnya sesaat lagi.
Pada kenyataannya memang, coachee seringkali terjerat dalam gremlin-gremlin pemikirannya sendiri ketika ingin mencapai tujuan yang diinginkan. Memprovokasi pemikiran mereka dengan teknik pertanyaan challenging, reframing dan connecting, menjadi salah satu jawaban. Sebab Anda tak mau kan, membawa coachee Anda berputar-putar terus dengan pertanyaan yang akan semakin membuat mereka stuck alias mentok.
Evoke awareness atau membangkitkan kesadaran coachee dengan pertanyaan challenging, reframing dan connecting menjadi suatu tool bertanya yang dipelajari di level Intermediate www.coachbasbas.com. Pertanyaan itu biasanya ditandai dengan struktur kata bagaimana jika, apa jika, dan sejenisnya.
Di setiap level belajar coaching (Everyone as Coach, Intermediate, Advance) jenis-jenis pertanyaan untuk evoke awareness, semakin berkembang. Semakin banyak varian. Ini sejalan dengan tujuan dari belajar coaching itu sendiri pada tiap levelnya.
Level Intermediate misalnya, tujuan dari program ini adalah orang mampu melakukan coaching berseri. Inilah coaching itu sesungguhnya. Maka pelajaran tentang prinsip-prinsip coaching ICF semakin rinci dilakukan. Praktik-praktik coaching yang dilakukan selayaknya seorang coach profesional. Maka teman-teman yang belajar di level ini semakin menemukan keseruan belajar coaching.
Mari kita lihat contoh percakapan coaching berikut:
Coach: Apa yang menjadi kekuatan diri Anda untuk menjadi lebih percaya diri?
Coachee: Saya punya semangat untuk itu.
Coach: Baik, apa data dan fakta yang bisa Anda sampaikan tentang hal itu? (challenging question).
Coachee: Ya, itu coach saya berniat untuk lebih percaya diri, salah satunya dengan ikut sesi coaching ini dan saya suka googling untuk mendapatkan insight tentang itu.
Coach: Apa tantangan dari luar diri Anda yang mempengaruhi pencapaian rasa lebih percaya diri ini?
Coachee: teman-teman yang tidak yakin pada kemampuan saya.
Coach: Jika Anda menjadi mereka, apa yang mereka lihat pada diri Anda? (reframing question).
Coachee: Hmm, iya sih coach saya lebih banyak ragu-ragu dalam bertindak. Mungkin itu yang mereka lihat.
Coach: Saat dihubungkan rasa ragu-ragu itu dengan pencapaian rasa percaya diri yang ingin ditingkatkan, bagaimana kamu melihatnya? (connecting question)
Coachee: Ya sih coach, itu dua hal yang bertolak belakang. Kalau saya masih terus banyak ragu-ragu, artinya pencapaian untuk jadi lebih percaya diri itu menjadi sesuatu yang sulit.
Coach: Oke, kalau begitu awareness apa yang muncul ketika kamu mengatakan hal tadi? (connecting question)
Coachee: Saya tidak boleh banyak ragu-ragu dalam bertindak jika ingin menjadi lebih percaya diri.
Bagaimana, semakin asyik ya melakukan sesi coaching dengan ragam pertanyaan challenging, reframing dan connecting question? Tentu Anda pun bisa melakukannya nanti. Kuncinya adalah Anda memahami esensi dari jenis pertanyaan tersebut.
Connecting the dots, menjadi salah satu peran seorang coach dalam sesi coaching. Coachee dapat menyampaikan apapun di dalam sesi coaching-nya, yang itu seringkali tak semuanya disadari coachee saat diucapkan. Dan coach yang handal akan mampu merangkai titik-titik itu dan menjadikannya pertanyaan-pertanyaan memberdayakan. Challenging, reframing, dan connecting question adalah dongkrak jitu yang bisa membangkitkan awareness coachee dari blind spots yang selama ini menutupi dan menjadi penghambat dalam mencapai tujuan yang diinginkan.