Di era persaingan yang kian ketat dan perubahan yang tak terhindarkan, setiap organisasi mencari investasi terbaik yang mampu memberikan keuntungan jangka panjang, bukan hanya finansial tetapi juga dalam hal sumber daya manusia. Inilah yang menjadi semangat utama Coaching Untuk Negeri, sebuah inisiatif yang memiliki visi besar: “Ingin Melihat Indonesia yang Lebih Baik.” Kami percaya, salah satu jalan untuk mewujudkan visi itu adalah dengan membudayakan coaching di setiap organisasi di Indonesia. Anda bisa melihat lebih jauh tentang profil kami dan visi kami di website coachinguntuknegeri.id.
Membangun budaya coaching bukan sekadar program pelatihan sesaat, lho. Ini adalah sebuah filosofi yang meresap ke seluruh lapisan organisasi, memberdayakan setiap individu untuk berkembang, berinovasi, dan berkontribusi maksimal. Dengan menerapkan standar dan etika dari International Coaching Federation (ICF), budaya coaching menjadi kunci transformatif yang membentuk pemimpin hebat dan tim super produktif, mendorong organisasi mencapai keunggulan kompetitif yang berkelanjutan.
Artikel ini akan mengkaji secara komprehensif mengenai definisi budaya coaching dari berbagai perspektif literatur, manfaat esensialnya bagi organisasi, serta tahapan implementasi program yang terstruktur, dengan mengacu pada prinsip-prinsip ICF.
Definisi Budaya Coaching: Sebuah Paradigma Pengembangan Organisasi
Coba deh kita bayangkan. Budaya coaching itu seperti membangun sebuah ekosistem di organisasi. Di ekosistem ini, setiap interaksi, setiap obrolan, bahkan setiap masalah yang muncul, dilihat sebagai kesempatan buat belajar dan berkembang. Prinsip-prinsip coaching itu menyatu dalam darah dan daging organisasi, dari level paling atas sampai staf paling bawah.
Menurut International Coaching Federation (ICF), coaching didefinisikan sebagai kemitraan dengan klien dalam proses yang memprovokasi pemikiran dan kreatif yang menginspirasi mereka untuk memaksimalkan potensi pribadi dan profesional mereka.
Kaitan definisi coaching ICF dengan budaya coaching sangatlah erat. Jika coaching sebagai sebuah praktik berfokus pada kemitraan untuk memaksimalkan potensi individu, maka budaya coaching adalah upaya sistematis untuk mengklaim definisi tersebut di tingkat organisasi. Ini berarti, organisasi berusaha menciptakan ekosistem di mana filosofi kemitraan, provokasi pemikiran, kreativitas, dan inspirasi untuk memaksimalkan potensi, tidak hanya terjadi dalam sesi coaching formal, tetapi juga terintegrasi dalam setiap interaksi, percakapan, dan proses pengembangan di seluruh lapisan organisasi. Ini adalah upaya untuk memperluas dampak positif coaching dari individu ke seluruh entitas organisasi.
Mengadaptasi definisi ICF ke dalam konteks organisasi, budaya coaching mengindikasikan:
- Pemberdayaan Individu: Setiap karyawan didorong buat mandiri, mikir kritis, dan merasa bertanggung jawab penuh atas apa yang mereka kerjakan dan bagaimana mereka berkembang.
- Komunikasi yang Konduktif: Interaksi didasarkan pada pertanyaan terbuka, kita diajak mendengarkan dengan sepenuh hati, dan feedback itu tujuannya buat membangun, bukan cuma nyalahin.
- Pembelajaran Berkelanjutan: Perkembangan diri dan tim itu proses yang nggak ada berhentinya, bukan cuma pas ada program pelatihan tahunan doang.
- Akuntabilitas Bersama: Pemimpin dan karyawan itu seperti tim yang solid, saling bantu buat mencapai tujuan, dan bertanggung jawab bareng-bareng.
Para ahli juga punya pandangan yang menarik:
- Behnam Bakhshandeh dan William J. Rothwell di buku mereka, Building an Organizational Coaching Culture: Creating Effective Environments for Growth and Success in Organizations (2023), melihatnya sebagai “sistem kepercayaan, nilai, dan praktik yang sudah jadi kebiasaan di seluruh organisasi, di mana coaching digunakan sebagai pendekatan utama untuk pengembangan karyawan, peningkatan kinerja, dan pencapaian tujuan organisasi.”
- David Clutterbuck bersama David Megginson, dalam Making Coaching Work: Creating a Coaching Culture (2006), bilang budaya coaching itu “gaya utama dalam memimpin dan bekerja sama di mana komitmen untuk meningkatkan organisasi tertanam dalam komitmen paralel untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (karyawan).”
- David Rock, pakar neuroleadership, sering ngomongin tentang lingkungan di mana pemimpin itu jadi “fasilitator insight“. Mereka nggak cuma ngasih jawaban, tapi memancing orang lain buat mikir dan menemukan ide sendiri. Ini yang bikin otak karyawan makin cerdas!
- Marshall Goldsmith, sang executive coach legendaris, sering membahas konsep feedforward sebagai alat kunci dalam budaya coaching. Dia bilang, daripada terus-terusan ngungkit kesalahan masa lalu (feedback), mending fokus ke masa depan dan ngasih saran yang ngebangun. Ini bikin orang semangat buat berubah!
- Dalam buku “The Coaching Habit” oleh Michael Bungay Stanier, budaya coaching digambarkan sebagai “tempat di mana ngobrol ala coaching itu hal biasa dan terjadi setiap hari.” Nggak perlu nunggu momen formal, obrolan berkualitas bisa muncul kapan aja.
- Harvard Business Review dalam berbagai artikelnya, seperti “The Leader as Coach” (November–Desember 2019), secara kolektif menyoroti budaya coaching sebagai transformasi dari gaya manajemen “kontrol dan perintah” menjadi “fasilitasi dan pengembangan,” di mana coaching menjadi bagian integral dari budaya pembelajaran dan kinerja berkelanjutan yang dilakukan secara ongoing oleh para manajer di semua level.
- Menurut CIPD (Chartered Institute of Personnel and Development), sebuah lembaga profesional di bidang SDM, dalam berbagai publikasi dan penelitian mereka, budaya coaching adalah “pendekatan strategis untuk pengembangan organisasi dan individu, di mana prinsip-prinsip dan praktik coaching diintegrasikan ke dalam cara organisasi beroperasi sehari-hari.” CIPD menekankan bahwa ini adalah perubahan sistemik, bukan hanya inisiatif pelatihan individu.
- Gillian Jones dan Ro Gorell dalam buku mereka “How to Create a Coaching Culture” (2014), mendefinisikan budaya coaching sebagai “suatu pendekatan di mana individu dan tim secara teratur terlibat dalam percakapan coaching untuk meningkatkan kinerja, memecahkan masalah, dan mengembangkan keterampilan baru, yang pada akhirnya berkontribusi pada kesuksesan organisasi secara keseluruhan.” (Perlu diketahui bahwa edisi kedua buku ini terbit pada tahun 2018).
- Peter Hawkins dalam bukunya “Creating a Coaching Culture” (2012) juga menggambarkan budaya coaching sebagai “lingkungan di mana coaching digunakan sebagai alat utama untuk pengembangan individu, tim, dan seluruh organisasi, dengan fokus pada pembelajaran berkelanjutan dan adaptasi terhadap perubahan.”
- Terakhir, dari Susanne Knowles dalam bukunya “Coaching Culture: Strategies for CEOs, Organisational Leaders, and HR Professionals” (2019), ia mendefinisikan budaya coaching sebagai “lingkungan di mana coaching terjadi secara alami dan organik sebagai cara untuk mengubah hubungan, melakukan transaksi bisnis, dan mencapai perubahan budaya.”
Intinya, budaya coaching itu seperti punya “DNA pertumbuhan” di organisasi kita. Semua orang jadi pembelajar yang aktif, pendorong semangat buat temannya, dan pendukung kesuksesan bersama. Keren banget, kan?
Manfaatnya Bikin Organisasi Jadi “Magnet” Talenta Terbaik!
Terus, kalau sudah punya budaya coaching, apa untungnya sih? Wah, banyak banget!
- Karyawan dan Anggota Organisasi Jadi Betah dan Happy! Kalau karyawan merasa didukung buat berkembang, mereka pasti lebih semangat kerja, jarang mengeluh, dan ogah pindah. Mereka merasa didengar, dihargai, dan punya masa depan di organisasi itu.
- Pemimpin Jadi Jagoan Sejati. Pemimpin yang udah “terinfeksi” coaching itu nggak cuma jago ngasih tugas, tapi juga jago ngembangin tim. Mereka belajar cara memberdayakan, mendelegasikan dengan cerdas, dan menggali potensi tersembunyi anak buahnya. Pas banget sama prinsip ICF: “Membangun Kesadaran” dan “Membangun Hubungan”.
- Kinerja Nggak Ada Lawan! Kalau semua orang berkembang, masalah bisa diatasi lebih cepat, ide-ide segar bermunculan, dan akhirnya produktivitas organisasi jadi melesat.
- Bakat Terbaik Nggak Gampang Minggat. Organisasi yang punya budaya pengembangan kuat itu seperti “magnet” buat talenta terbaik. Mereka tahu di sini ada kesempatan buat terus belajar dan maju.
- Organisasi Jadi Lincah di Tengah Badai Perubahan. Dunia bisnis itu kayak ombak di laut, kadang tenang kadang badai. Organisasi yang punya budaya coaching itu jadi lincah, gampang adaptasi, dan nggak gampang panik pas ada tantangan baru.
- Inovasi Bersemi Setiap Hari. Kalau karyawan merasa aman buat nyoba hal baru, berani nanya, dan nggak takut salah, mereka pasti lebih berani ngeluarin ide-ide “gila” yang bisa jadi terobosan besar buat organisasi.
- Belajar Itu Nggak Pernah Berhenti. Coaching itu secara alami bikin orang penasaran dan pengen terus belajar. Jadi, organisasi kamu nggak akan pernah stuck di tempat, selalu bergerak maju!
Gimana Cara Membuat Budaya Coaching yang Oke Ala ICF? Ini Dia Peta Perjalanannya!
Membangun budaya coaching itu bukan sulap, bukan simsalabim. Ini butuh proses, komitmen, dan perencanaan yang matang. Anggap aja kayak kita ngebangun rumah impian, ada tahapan-tahapannya. Nah, ini dia peta perjalanan membangun budaya coaching berbasis ICF:
Tahap 1: Komitmen dari Atas, Visi yang Jelas!
- Pemimpin Harus Jadi Garda Terdepan: Ini yang paling penting. Para pemimpin senior, dari CEO sampai direktur, harus bener-bener paham, dukung penuh, dan komitmen sama visi budaya coaching ini. Kalau nggak dari atas, program ini bisa mati di tengah jalan.
- Tentukan “Mau Jadi Apa Kita?”: Kita bangun budaya coaching ini buat apa sih? Buat ningkatin penjualan? Bikin karyawan lebih betah? Biar lebih banyak ide baru? Tujuannya harus jelas dan nyambung sama target bisnis organisasi.
- Ceritakan Visi Kita: Setelah tujuannya jelas, gambarkan visi yang menarik tentang organisasi impian kita kalau budaya coaching ini sudah jalan. Lalu, ceritakan visi ini ke semua karyawan, biar mereka juga ikut semangat dan punya bayangan yang sama.
Tahap 2: Cek Kondisi Sekarang, Bikin Rencana Matang!
- Peta Kondisi Awal: Lakukan survei atau ngobrol-ngobrol buat tahu, sejauh mana sih pemahaman dan praktik coaching yang udah ada di organisasi kita? Apa aja yang masih kurang dan perlu kita benahi?
- Pilih “Gaya Coaching” Kita: Mau pakai model kayak gimana? Apakah manajer yang akan jadi coach buat timnya? Atau kita mau punya coach khusus di organisasi? Penting nih, semua harus mengacu ke Kompetensi Inti ICF sebagai panduan utama kita.
- Siapin Bekal Perjalanan: Ini butuh investasi. Tentukan berapa anggaran yang dibutuhkan, berapa lama waktu yang kita alokasikan, dan siapa aja tim yang bakal terlibat dalam program ini.
Tahap 3: Latihan Keras, Asah Skill ala ICF!
- Latih Pemimpin/Manajer sampai Bisa Nge-Coach timnya: Ini adalah jantung dari program. Para pemimpin harus dilatih keterampilan coaching fundamental sesuai dengan Kompetensi Inti ICF. Ini mencakup kemampuan untuk menunjukkan standar etika, mewujudkan pola pikir coaching, membangun kepercayaan, mendengarkan aktif, dan mengajukan pertanyaan yang memprovokasi kesadaran untuk memfasilitasi pertumbuhan.
- Latih Coach Internal: Kalau kita mau punya coach khusus di organisasi, mereka harus dilatih lebih dalam lagi. Idealnya sih, ikut program pelatihan coaching berbasis ICF seperti di Coaching Untuk Negeri. Ini akan memastikan mereka punya dasar yang kuat dan sesuai standar global.
- Workshop Dasar buat Semua Karyawan dan Anggota Organisasi: Berikan pemahaman dasar tentang prinsip-prinsip coaching kepada seluruh karyawan. Biar semua punya mindset yang sama dan bisa saling coaching dalam interaksi sehari-hari.
Tahap 4: Saatnya Praktik, Jadikan Kebiasaan!
- Ngobrol ala Coaching di Setiap Kesempatan: Dorong manajer buat pakai cara coaching ini di setiap rapat tim, pada saat memberikan feedback kinerja, atau bahkan obrolan ringan.
- Sesi Coaching Formal: Kalau ada karyawan atau anggota organisasi yang butuh pengembangan spesifik, bisa difasilitasi sesi coaching formal dengan coach internal atau eksternal.
- Bikin Komunitas “Duta Coaching”: Bentuk kelompok atau forum di mana para coach dan manajer bisa saling tukar pengalaman, curhat tantangan, dan bagi-bagi tips sukses.
- Pengembangan Alat Bantu: Sediain template, panduan, atau alat bantu lain yang bisa bikin praktik coaching jadi lebih gampang.
Tahap 5: Ukur, Evaluasi, dan Terus Perbaiki!
- Ukur Pakai Angka: Tentukan indikator apa yang mau kita ukur buat tahu program coaching ini berhasil atau nggak. Misalnya, karyawan jadi makin semangat nggak (cek dari survei)? Kinerja naik nggak? Jumlah karyawan yang resign berkurang nggak?
- Tanya Langsung ke Karyawan: Lakukan survei berkala atau ngobrol langsung sama karyawan. Gimana sih efeknya coaching ini ke mereka? Apa yang perlu diperbaiki?
- Evaluasi Menyeluruh: Tiap beberapa bulan, cek lagi hasilnya. Apa yang sudah oke? Apa yang masih bolong-bolong?
- Jangan Berhenti Belajar: Budaya coaching itu harus terus berkembang. Sesuaikan terus programnya berdasarkan apa yang kita pelajari dan apa yang dibutuhkan organisasi.
Bukti Nyata: Organisasi Pemenang ICF Prism Award!
Mungkin Anda bertanya, “Memangnya ada organisasi yang sudah berhasil melakukan ini?” Tentu saja! International Coaching Federation (ICF) setiap tahun memberikan Prism Award kepada organisasi di seluruh dunia yang telah berhasil mengimplementasikan program coaching dengan standar tertinggi dan memberikan dampak positif yang terukur pada budaya dan kinerja mereka. Ini adalah bukti nyata bahwa budaya coaching bisa dan sudah diterapkan dengan sukses.
Beberapa contoh organisasi yang pernah menerima penghargaan bergengsi ini, menunjukkan keberhasilan mereka dalam menanamkan budaya coaching:
- Intel Corporation: Dikenal sebagai raksasa teknologi global, Intel telah menunjukkan bagaimana coaching menjadi bagian penting dari pengembangan kepemimpinan dan budaya inovasi mereka.
- Tata Consultancy Services (TCS): Sebagai salah satu perusahaan layanan IT terbesar di dunia, TCS berhasil mengintegrasikan coaching untuk meningkatkan pengembangan karyawan dan kinerja tim mereka di skala besar.
- TD Bank Group – North American Contact Centre: Contoh dari sektor keuangan yang menunjukkan bagaimana coaching dapat meningkatkan efektivitas di pusat kontak, yang sangat mengandalkan interaksi manusia.
- Ireland’s Health Service Executive (HSE): Sebuah contoh sektor publik yang berhasil membangun budaya coaching untuk mendukung pengembangan kepemimpinan dan meningkatkan layanan publik di seluruh sistem kesehatan Irlandia.
- GlaxoSmithKline (GSK): Perusahaan farmasi global ini telah menggunakan coaching sebagai bagian dari strategi pengembangan talenta mereka, mendorong pertumbuhan dan kepemimpinan yang adaptif.
- J.K. Organisation (India): Sebuah konglomerat besar dari India yang menunjukkan bagaimana coaching bisa diterapkan di berbagai sektor industri untuk mencapai kesuksesan bisnis.
- Isikkent Schools (Turki): Contoh yang unik dari sektor pendidikan, di mana sekolah ini menerapkan coaching tidak hanya untuk staf pengajar dan administrasi, tetapi juga untuk menciptakan budaya belajar dan pengembangan yang positif di seluruh komunitas sekolah.
- Qatar Financial Centre (QFC): Organisasi di sektor keuangan ini berhasil mengintegrasikan coaching untuk mendukung perkembangan profesional para anggotanya, meningkatkan kinerja, dan menumbuhkan lingkungan yang adaptif.
Contoh-contoh ini membuktikan bahwa, terlepas dari ukuran, sektor, atau lokasi, pembangunan budaya coaching adalah strategi yang dapat direplikasi dan memberikan hasil nyata dalam membentuk pemimpin hebat dan tim super produktif.
Kesimpulan: Organisasi Anda, Bintangnya Para Karyawan dan Anggota Organisasi!
Membangun budaya coaching yang kuat dan berlandaskan pada standar International Coaching Federation (ICF) itu bukan cuma tugas Divisi SDM. Ini adalah investasi jangka panjang yang cerdas buat masa depan organisasi Anda. Dengan fokus bikin karyawan mandiri, komunikasi makin lancar, dan semangat belajar tidak ada habisnya, Anda bisa menciptakan lingkungan kerja yang dinamis, produktif, dan penuh ide-ide baru. Memulai perjalanan ini dengan komitmen kepemimpinan yang teguh, pelatihan yang terencana, dan evaluasi yang berkelanjutan akan memungkinkan organisasi Anda mencapai potensi tertingginya.
Ayo Wujudkan Indonesia yang Lebih Baik, Bersama Coaching Untuk Negeri!
Coaching Untuk Negeri hadir dengan visi mulia untuk “Melihat Indonesia yang Lebih Baik.” Kami percaya, melalui penguatan budaya coaching di setiap organisasi, kita bisa mencetak lebih banyak pemimpin hebat dan tim super produktif yang pada gilirannya akan berkontribusi pada kemajuan bangsa.
Para pemimpin organisasi di seluruh Indonesia, inilah saatnya! Mari bangun budaya coaching yang memberdayakan di organisasi Anda. Kami di Coaching Untuk Negeri siap menjadi mitra Anda. Kami memiliki keahlian dan pengalaman sebagai konsultan pengembangan budaya coaching yang berbasis pada standar ICF. Mari berkolaborasi untuk mewujudkan visi besar ini bersama-sama.
Hubungi kami sekarang untuk berdiskusi lebih lanjut tentang bagaimana kami dapat membantu organisasi Anda bertransformasi dan menjadi bagian dari Indonesia yang lebih baik!

Basyrah Basir, PCC - Coach BasBas
Basyrah Basir, PCC atau biasa di panggil Coach BasBas adalah Founder dan CEO Coaching Untuk Negeri. Saat ini adalah pemegang akreditasi kredensial Coach Global Professional Certified Coach dari International Coaching Federation (ICF). Beliau sudah berpengalaman di dunia pemberdayaan SDM selama 29 tahun.
Assalamu’alaikum ,semangat pagi ..
Kami sangat tertarik SG sistem coaching,2 x mengikuti coaching on line yg lalu,tp untuk menerapkan SBG lieder yg bersikap coaching KPD rekan” karyawan belum ada skill ke situ..bisa kah dibantu lebih lanjut…
Kami dr KSPPS BMT halaqoh
Waalaikumsalam Bu Siti Nurjanah, Semangat Pagi…
Terima kasih untuk respon dan komentarnya serta niatnya untuk dibantu agat bisa mengembangkan bahkan mudah-mudahan membudayakan sistem coaching di KSPPS BMT Halaqoh.
Tentu kami dari Coaching Untuk Negeri akan dengan senang hati membantu merealisasikan niat baik ini, hal-hal detailnya izin berkenan akan kami email secara pribadi.
Salam Coaching Untuk Negeri
Coach BasBas