Jangan Suruh Aku

Pada dasarnya tak ada sesungguhnya seorang pun yang suka diperintah atau disuruh oleh orang lain. Seseorang akan bergerak melakukan sesuatu  jika dia sendiri yang memiliki alasan atau keinginan tersebut. Demikian menurut Dr Michael Panthalon, seorang peneliti dari Universitas Yale, AS.  Temukan dulu big why-nya, istilah Simon Sinek, untuk menjelaskan motivasi seseorang atau organisasi melakukan sesuatu.

Lantas saya mengaitkan penjelasan tersebut pada diri sendiri. Betul sekali! Saya paling tidak suka rasanya disuruh-suruh apalagi diperintah. Saya pikir saya sangat ego karena hal ini.

Kita mungkin punya banyak contoh lainnya. Saat menyuruh anak untuk belajar dengan baik, si anak malah tak mengindahkannya. Di lain kesempatan saat orang tua melarang anaknya untuk bermain gadget secara berlebihan, sang anak malah makin getol melakukannya.

Pada saat mini workshop Teacher as Coach beberapa waktu lalu, seorang rekan guru menyampaikan bahwa dirinya sudah sangat sering menasihati dan memotivasi siswanya untuk berubah menjadi lebih baik. Namun pada kenyataannya sang murid tetap saja pada perilakunya.

What’s wrong? Kita mencari-cari apa penyebabnya. Atau bisa juga menyerah karena telah lelah mencoba. Tetapi jika merujuk pada penjelasan Dr. Phantalon tadi, kiranya kita mafhum bahwa itulah tabiat manusia. Tapi pertanyaan selanjutnya adalah kita kan menyuruh mereka melakukan yang baik, yang berguna untuk diri mereka sendiri?

Di sinilah pendekatan inside out dapat coba digunakan. Pendekatan yang dapat menggugah kesadaran dari dalam orang itu sendiri. Karena sesungguhnya motivator handal itu ya Anda sendiri, bukan orang lain. Meskipun mulut sang motivator eksternal sudah berbusa-busa, jingkrak-jingkrak berteriak, tapi  Anda tetap tak bergerak, nothing happened.

Apa pendekatan inside out itu? Dr Marcia Reynolds,seorang Master Coach dalam bukunya Coach The Person Not The Problem, mengutip pendapat  seorang ahli saraf  Michael Gazzaniga yang menyatakan bahwa  kita menghabiskan hari-hari kita dalam pemrosesan pikiran otomatis, jarang untuk sejenak berhenti untuk mempertanyakan alasan pilihan itu. Bahkan saat kita melakukannya, otak kita menolak analisis diri untuk membuat kita merasa aman dan benar, bahkan jika merasa bahwa alasan kita tidak rasional.

Di sinilah seseorang di luar otak kita diperlukan untuk menerobos perangkat pelindung ini dengan pendekatan transformasional. Coaching adalah pendekatan transformasional yang bekerja dari dalam ke luar (inside out). Penggalian informasi reflektif adalah cara yang ampuh untuk menciptakan gangguan dalam pola pikir yang mengarah pada terobosan transformasi dan perubahan.

Sering kali orang tidak bergerak untuk bertindak bukan karena mereka tidak tahu caranya. Bahkan maaf “sialnya” kita sudah tahu berjubel cara, tapi tetap saja tak berdaya berbuat apa- apa. Jawaban mayoritas dari situasi ini adalah karena kita yang belum termotivasi dan belum berkomitmen dalam melakukan rencana-rencana tersebut. Atau kita masih punya barrier dan ragu-ragu dalam melakukan sesuatu. Ada ketakutan, kekhawatiran, kegundahan jika kita tak mampu melakukannya. Dan itu semua bak benang kusut yang terpintal kuat di dalam kepala.

Pintalan benang kusut ini akan mulai terurai manakala ada orang lain yang mendengarkan, merefleksikan dan bertanya tentang sesuatu yang ada dalam kepala ini. Yang pada kenyataannya setelah diuraikan, segala keraguan, tantangan dan kekhawatiran itu ternyata tak sebesar atau serumit yang dibayangkan sebelumnya. Bahkan sering pada akhirnya orang menyadari kenapa selama ini dirinya bisa berpikir seperti itu. Kembali kita memerlukan orang lain untuk menjadi mitra berpikir guna membuka segala potensi diri ini. Begitulah proses insight out bekerja. Ketika seseorang telah banyak “disulangi” (baca: diberi input dari luar dirinya), beri mereka kesempatan untuk “memuntahkan” kembali isi kepala dan hatinya dalam bentuk ide-ide pemikiran, keinginan, yang mereka punya sendiri.

Pendekatan coaching mampu membangkitkan awareness seseorang akan rasa tanggung jawab dan komitmen atas tindakan atau pilihannya. Bukankah dua hal tersebut menjadi value penting bagi manusia?

Bayangkan jika banyak orang yang mengalami transformasi di dalam dirinya dengan pendekatan inside out ini. Rasanya kita takkan perlu terlalu repot lagi banyak menyuruh-nyuruh  dan memerintah. Bagaimana menurut Anda?

Cibubur, 14 Maret 2025

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *