Yang namanya orang lagi ngumpul dan seru-seruan, pastilah ada banyak cerita di dalamnya. Ada yang mengharukan sampai menguras emosi, tak sedikit pula cerita nostalgia masa lalu yang menggugah rasa dan melahirkan tawa atau juga cerita-cerita masa depan yang menggambarkan impian dan harapan. Terkadang saking serunya, seolah semua yang berkumpul ingin bercerita dan mau didengarkan dan tak sempat lagi untuk mendengarkan yang lainnya.
“Pernah mengalami hal itu? Saya sangat pernah mengalaminya.”
Bahkan kenyataannya kalau direfleksikan pada saat itu bisa jadi saya mendengar tapi tak menyimak. Bahasa kerennya hearing but not listening.
Kita ambil sebuah ilustrasi. Pada saat seorang bercerita pada kita tentang pengalamannya yang sangat seru, atau cerita tentang anak-anak mereka yang berprestasi, atau mereka berkeluh kesah tentang harga-harga di pasar yang merangkak naik, berapa banyak di antara kita yang terkadang latah untuk menyampaikan hal yang sama? Bahkan kadang terkesan tidak mau kalah dramatisnya dengan kisah yang disampaikan oleh teman tersebut?
Ada rasa manakala kita sedang bercerita, berharap orang yang mendengar itu menjadi good listener atau pendengar yang baik. Alamiah memang karena kebanyakan kita suka untuk didengarkan. Kemampuan mendegarkan yang baik memang belum banyak diajarkan. Dia tak sepopuler pelatihan public speaking yang bisa dengan mudah kita ikuti kursus-kursusnya. Oleh sebab itu dalam tulisan ini kita akan mengulas sedikit tentang tiga level mendengar, agar kita tahu di level mana seringnya kita berada, dan ke depannya kita semakin menjadi seorang pendengar yang baik.
- Internal Listening
Di level internal listening ini secara sederhana digambarkan ketika lawan bicara kita menyampaikan sebuah informasi, kita juga disibukkan dengan pikiran, tanggapan, penafsiran atau opini kita terhadap apa yang kita dengar. Lebih ekstrimnya lagi berada di posisi ini manakala kita sebenarnya tidak peduli atas apa yang mereka sampaikan meski terlihat kita lagi mendengarkan.
Mari kita lihat contoh P (Pembicara) dan R (Respons) berikut.
P: Minggu yang lalu aku pecah rekor bersepeda sejauh 10 kilometer
R: Cuma 10 kilometer saja? Aku bahkan pernah sepedaan sampai 20 kilometer
P: Ternyata buat cake brownies itu mudah ya. Aku berhasil membuatnya tadi pagi.
R: Kalau aku sih sudah lama bisa buat brownies dan rainbow cake juga.
Apa yang kita rasakan jika kita berada di posisi P? Ya, bisa jadi kita merasa kurang dihiraukan, atau pun ada rasa kurang dihargai. Inilah contoh mendengar internal, dimana lawan bicara asyik sendiri dengan apa yang ada didirinya, meski terdengar ada kemiripan dalam situasi dalam cerita tersebut. Bagaimana, pernah berada dalam situasi ini?
- Listening to Understanding/Focus Iistening
Dalam level ini seseorang sudah mulai fokus kepada apa yang disampaikan lawan bicara. Dia tak lagi berkutat pada opininya sendiri tentang apa yang didengarnya, meski mungkin ada kemiripan kisah pada apa yang pernah dialami. Di level ini pendengar sudah fokus pada you and your situation.
P: Saya sangat senang sekali karena sudah konsisten berolah raga tiga kali seminggu.
R: Wah, selamat ya atas konsistensi mu berolah raga tiga kali seminggu.
P: Sangat tidak nyaman sekali rasanya, pagi tadi aku menunggu seorang teman yang telat datang hampir satu jam.
R: Ya, jika aku berada di posisi mu, mungkin akupun merasakan hal yang sama.
Bagaimana Anda melihat respons dari R atas cerita P? Jika Anda berada di posisi P apa yang Anda rasakan ketika lawan bicara Anda merespons Anda sedemikian rupa? Dalam situasi seperti ini mungkin Anda akan merasa lebih dihargai, didengarkan dan pastinya merasa bahagia. Contoh respons mendengar di atas adalah contoh dimana pendengar fokus pada apa yang disampaikan padanya.
- Global Listening
Jika seseorang berada dalam level ini, berarti orang tersebut tidak saja mendengar apa yang disampaikan namun juga mampu mendengarkan unspoken words dari pembicara. Unspoken words itu dapat didengar, dirasa bahkan dilihat dari gestur, emosi, value atau bahkan helaan nafas mereka. Dan ini merupakan level mendengarkan cukup luar biasa, karena kemampuan mendengarkan pada spoken dan un spoken words orang yang berbicara, sebagai berikut.
P: Mengawali bulan ini aku sangat bahagia sekali karena mampu mencapai prestasi yang aku inginkan meski tak mudah tantangan di dalamnya, dan kebahagiaan itu semakin bertambah manakala keluarga besar ku juga sangat menghargai pencapaian ku ini.
R: Selamat ya. Aku sangat mengapresiasi apa yang telah berhasil kamu capai, dan aku melihat ekspresi kebahagiaan yang jelas dari mata dan nada suara mu menyampaikan hal ini.
P: Tidak mudah untuk memimpin orang meski itu tak banyak. Namun aku sangat yakin tim ku di kantor adalah orang yang bisa diAndalkan walau dalam kondisi sulit dan aku akan tetap bersama mereka.
R: Dari apa yang kamu sampaikan ini aku melihat bahwa kamu adalah pemimpin yang sangat bertanggung jawab dan tidak mudah menyerah pada keadaan.
Dari 2 contoh di atas, apa yang Anda lihat dan rasakan berbeda pada bagian R sebagai respons dari cerita P, jika dibandingkan dengan 2 level mendengar sebelumnya? Ya, tepat sekali. Di level global listening ini sang pendengar memberi respons bukan hanya pada apa yang di sampaikan namun juga pada sisi value, semangat, emosi, gestur yang dilihat dari sang pembicara. Apa yang Anda rasakan bila Anda mendapat respons global listening dari orang yang mendengarkan Anda? Saya bisa menebak, Anda pasti akan sangat merasa dihargai, merasa diperhatikan dan tak tertutup kemungkinan Anda akan semakin merasa nyaman menyampaikan cerita-cerita selanjutnya.
Level mendengarkan 2 dan 3 di atas, adalah hal yang lazim diaplikasikan para profesional coach dalam merespons cerita klien mereka pada saat sesi Coaching berlangsung, dan bahkan jadi terbiasa teraplikasi dalam keseharian mereka. Namun respons mendengar tersebut pun bisa diterapkan oleh siapa saja. Hanya tinggal dilatih dan dijadikan kebiasaan baru.
Saya dapat membayangkan dan merasakan betapa dahsyat, makin indah dan damainya dunia jikalau kita mampu mendengarkan mereka. Karena memang sejatinya dua telinga kita tercipta adalah untuk bisa mendengar lebih banyak dari hanya sekadar berkata-kata.