Selamat Hari Anak Nasional 23 Juli 2019. Harapan dan doa selalu semoga peringatan Hari Anak Nasional ini tak hanya selesai sebatas seremonial saja namun merupakan momentum untuk sebuah renungan, refleksi, strategi dan pastinya aksi mau dibawa kemana nasib para generasi bangsa ini di masa mendatang.
Anak adalah anugerah dalam keluarga. Rasa senang yang luar biasa pastinya dirasakan orangtua atas kelahiran mereka. Tingkah yang lucu, wajah yang imut tak berdosa di waktu kecil adalah pelepas penat istimewa ayah bunda usai bekerja. Ibu saya pernah bilang, orang tua mana yang tak sayang pada anaknya.
“Tuh lihat, si Edem saja sayang pada anak-anaknya.” Ujar beliau sambil menunjuk pada kucing kami bernama Edem yang saat itu baru saja melahirkan.
Sampai-sampai suatu ketika saya menemukan sebuah ungkapan yang begitu menarik dalam sebuah tulisan yang menyatakan bahkan seorang Hitler sang diktator yang kejam dan otoriter sekalipun akan berubah menjadi seorang penyayang dan luluh hatinya pada seorang anak. Ternyata begitu hebatnya pesona anak di mata manusia.
Namun faktanya, tak selamanya kehadiran anak-anak itu terus berlangsung indah bagi orang tua. Tak sedikit mereka menjadi beban orang tua di saat mereka beranjak besar. Dulunya lucu, sekarang menjadi pengganggu. Dulunya imut sekarang suka bikin ribut. Dan sebahagian orangtua pun jadi galau lantas langsung curhat di medsosnya.
Ledakan informasi yang begitu cepat dan mudah mereka dapatkan dengan gawai canggih di tangannya saat ini, bisa menjadi tantangan tersendiri bagi para orangtua kalau hal ini tak bisa disiasati dengan bijak. Benda kecil berbentuk persegi panjang itu nyatanya kini menjadi teman akrab anak, bahkan terkadang melebihi orangtuanya. Kenyataan yang agaknya sulit untuk dipungkiri. Ironisnya lagi ketika tampak orangtua dan anak duduk bersama, namun nyatanya masing-masing disibukkan dan asyik dengan benda bernama gadget itu di tangan mereka.
Keresahan yang begitu luar biasa manakala saya menyaksikan anak-anak kecil berusia batita, balita pun sudah akrab sekali dengan gadget yang notabene sebenarnya bukan kebutuhan mereka. Mereka pun tak segan-segan untuk menangis jikalau orangtua tak segera menuruti memberi gadget yang mereka inginkan. Siapa yang sebenarnya memulai peristiwa ini? Berbagai dalih diberikan orang tua atas keadaan tersebut.
Stephen Covey, pakar people development pernah mengatakan dalam bukunya the 8th Habit, setelah era informasi maka tibalah saatnya era kebijaksanaan. Era informasi yang tak bisa lagi terbendung saat ini nyatanya bisa berdampak menjadi sebuah momok jika tak ada penyeimbangan yaitu sebuah kebijaksanaan. Era Kebijaksanaan yang dimaksud adalah bagaimana kita sebagai manusia, orang tua juga bisa mengajak anak berpikir (untuk mengelaborasi pemikiran mereka), menjadi partner mereka, teman diskusi, dan hadir saat mereka butuh untuk didengarkan. Bukan zamannya lagi menjadi orangtua yang otoriter apalagi menjadi orang tua yang terlalu memanjakan anak yang akibatnya tentu tak baik buat mereka di masa depan. Orang tua juga perlu bertransformasi menjadi orang tua zaman now. Apa itu? Yaitu orang tua yang berperan juga sebagai coach atau Parents as Coach, bagi anak-anak mereka.
Apa itu Parent as Coach? Yaitu orang tua yang dalam komunikasinya pada anak-anaknya menerapkan setidaknya langkah-langkah sebagai berikut:
1. Respek. Hargai anak-anak Anda sebagai manusia ciptaan yang Maha Kuasa dengan segala keunikan dan potensinya. Hindari membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain.
2. Hadirlah sepenuhnya untuk mereka dan dengarkanlah mereka. Kehadiran diri sebagai orang tua itu sangat penting, apalagi dalam kondisi krusial anak-anak Anda. Luangkan waktu, dan dengarkanlah mereka sepenuhnya, tanpa ada gangguan di antara Anda.
3. Bertanya pada mereka dengan pertanyaan yang meluaskan dan membangkitkan pemikiran bukan pertanyaan yang intimidatif, judgment yang akan membuat mereka takut dan menjadi tidak terbuka.
4. Ajak mereka untuk bertanggung jawab atas apa yang mereka lakukan atau sesuatu yang menjadi pilihan mereka dan beri mereka apresiasi.
Mari kita simak contoh berikut untuk melihat perbedaan pola komunikasi Parents as Coach dengan yang bukan dalam percakapan berikut antara orang tua dan anak.
Contoh Percakapan Pertama:
Orangtua (OT): Kamu itu, kok malah milih jurusan IPS sih? Di keluarga kita semuanya jurusan IPA.
Anak (A): Memangnya salah Bu kalau aku jurusan IPS? Aku memang tak sepintar yang lain. (Sang anak menjadi defensif dan bisa merasa rendah diri).
Parents as Coach:
OT: Jadi kamu pilih jurusan IPS. Selamat ya, Ayah dan Ibu dan seluruh keluarga pasti mendukungmu. (Orang tua menunjukkan sikap respek, menghargai keinginan dan keputusan anaknya).
A: Iya bu terimakasih. Soalnya aku mau ambil jurusan hukum waktu kuliah nanti. ( Merasa senang dan bersemangat karena dihargai dan didukung).
Contoh Percakapan Kedua:
A: Ma, udah bisa ngomong sekarang?
OT: Ya udah, ngomong aja. Mama dengar kok. (Sambil terus menatap ke layar HP)
A: Oke, Ma, aku kenapa ya kok sulit sekali belajar matematika. Bawaannya jadi ngantuk
OT: Loh kok sulit? Kan sudah mama masukin les. Kamu nya aja tuh yang gak serius berarti. (Orang tua tidak mendengarkan informasi anaknya yang kesulitan belajar matematika dan memberikan judgement)
Parents as Coach:
A: Ma, boleh ngomong sesuatu?
OT: Boleh dong, mau ngomong apa? (Sambil menutup majalah yang dibaca dan menatap wajah sang anak penuh perhatian).
A: Gini Ma, kenapa ya aku kok sulit banget rasanya belajar matematika? Padahal udah serius sekali belajarnya.
OT: Oh. Kamu kesulitan belajar matematikanya padahal kamu sudah serius ya. (Sang ibu fokus mendengarkan apa yang menjadi keluhan sang anak).
A: Iya Ma, gimana tuh ya ?
Contoh Percakapan Ketiga:
A: Yah, Fauzan sudah bertekad ingin kuliah di Fakultas Hukum.
OT: Apa Ayah gak salah dengar? Kamu Jurusan IPA kan? Masuk Teknik atau Kedokteranlah. Kan sayang nilai-nilaimu yang bagus-bagus itu di IPA. Kok jadi salah jurusan gitu sih. (Sang Ayah mengajukan pertanyaan yang membuat anak bisa merasa bersalah atas pilihannya)
A: Ya, udahlah kalau ayah tidak setuju. Fauzan gak mau jurusan yang lain.
Parents as Coach:
A: Yah, Fauzan sudah bulatkan tekad untuk lanjut ke Fakultas Hukum nanti waktu kuliah.
OT: Oh ya? Setahu ayah kamu kan Jurusan IPA, nilai kamu juga bagus-bagus. Apa yang membuat kamu mau lanjut kuliah di Fakultas Hukum? (Sang ayah bertanya pilihan anaknya, untuk mengeksplorasi pemikiran sang anak tentang pilihannya itu).
A: Iya yah. Betul sih, nilai Fauzan bagus-bagus memang. Alasannya kenapa milih Fakultas Hukum karena tertarik sekali ingin jadi pengacara yah. Biar bisa bantu banyak orang, apalagi orang awam yang tak paham tentang hukum. Sedih yah, lihat banyak kasus yang menimpa orang-orang awam itu.
OT: Oh begitu, baiklah ayah menghargai keinginan mu itu.
Contoh Percakapan Keempat:
OT: Gini aja, Mama punya solusi buat kamu biar gak sulit belajar matematikanya. Mama akan panggil guru private buat kamu.
A: Terserah mama saja. Kalau nanti aku tetap sulit belajar dan tetap ngantuk, Mama jangan marah ya.
Parents as Coach:
OT: Tadi kamu bilang, kamu sulit dan suka ngantuk kalau belajar matematika. Apa pandanganmu atas situasi ini?
A: Iya Ma memang begitu keadaannya. Menurut saya, baiknya gak usah les aja lagi karena saya memang gak terlalu minat sama matematika. Gimana kalau lesnya di ganti jadi les bahasa Inggris aja Ma, kan cita-cita ku mau jadi presenter tv gitu.
OT: Oke kalau memang itu pilihan kamu. Karena kamu maunya les bahasa Inggris, kalau Mama boleh tahu bagaimana caranya kamu bisa menjaga komitmen agar kamu les nya semakin oke sehingga nanti tujuanmu jadi presenter tv bisa tercapai?
A: Aku akan serius lesnya Ma, dan gak ngantuk-ngantuk lagi. Aku bertekad jadi the best student nanti di les. Kalau ternyata aku tidak serius seperti yang aku katakan, uang les yang Mama keluarkan nanti aku cicil untuk menggantinya. Dan aku gak usah lanjut lagi lesnya.
OT: Baik kalau begitu, Mama hargai apa yang telah menjadi keputusan dan komitmen kamu.
Dari contoh-contoh tersebut kita sudah bisa melihat perbedaan pola komunikasi ala Parents as Coach. Setelah hadir sepenuhnya, mendengar dan bertanya keinginan sang anak, orang tua yang berperan sebagai Parents as Coach tak lupa untuk menanyakan komitmen sang anak atas pilihannya itu. Orang tua pada posisi ini membawa anak untuk belajar bertanggung jawab atas sesuatu yang menjadi pilihannya. Parents as Coach percaya bahwa anak-anak mereka memiliki potensi yang luar biasa.
Tangungjawab utama pendidikan bukanlah tugas guru di sekolah. Orang tualah yang menjadi madrasah utama bagi anak-anaknya. Dapat dibayangkan betapa era informasi yang begitu cepat ini jika tak di imbangi dengan era kebijaksanaan, kecerdasan pemikiran didalamnya bisa berdampak buruk bagi anak-anak generasi kita.
Lihat saja bagaimana kenakalan remaja, bullying, pelecehan seksual yang terjadi pada anak-anak semakin marak saat ini salah satunya karena bebasnya informasi yang mereka dapatkan. Orang tua yang berperan sebagai Parents as Coach akan senantiasa menjalin komunikasi yang partnership pada anak-anak mereka dan pastinya siap untuk menjadi orangtua yang selalu bertumbuh. Parents as Coach senantiasa menginginkan anak-anak mereka mencapai potensi terbaik, bukan melakukan intervensi menjalankan apa keinginan orang tua.
Salah seorang sahabat belajar kami dalam program Everyone as Coach Workshop yang juga seorang guru berprestasi di salah satu SMPIT di kota Depok, begitu merasakan dampak nyata ketika dia merubah pola komunikasi nya menjadi Parents as Coach pada sang anak dan murid-muridnya. Lebih banyak mendengar, lebih banyak bertanya, lebih membuat sang anak aware akan tangung jawabnya ketimbang beliau menggunakan kalimat perintah alias lebih banyak menyuruh-nyuruh seperti kebiasaan sebelumnya.
Bagaimana dengan anak-anak Indonesia di masa depan jika mereka senantiasa tergali potensi terbaiknya serta tumbuh rasa tangung jawab dan komitmennya atas segala pilihan tindakan yang dilakukan? Jack Canfield dalam bukunya The Success Principles menyatakan sikap bertanggung jawab dan komitmen dalam kehidupan merupakan kunci utama kesuksesan. Ayo Maju dan terus kembangkan potensi terbaik anak-anak Indonesia.