Puji dan Apresiasi

“Siapa yang royal memberikan pujian pada orang lain? Sebaliknya siapa yang cukup irit memberikan pujian? Atau mungkin yang punya hobi dipuji tapi suka ogah memuji? Ups, kok mendapatkan pujian jadi hobi ya? Tanyaku dengan tersenyum. 

Faktanya orang lebih suka dipuji daripada dikritik. Di banyak buku self help, salah satunya How Win Friends and Influence People, karya Dale Carnegie dikatakan pujian dapat meningkatkan kepercayaan diri seseorang dan kritikan menghancurkannya. Pujian pada orang lain bisa dilakukan di muka umum, namun ketika hendak mengkritiknya lakukanlah dengan bijak. Beri kesempatan seseorang untuk menyelamatkan muka, begitu istilah dalam buku tersebut. Menarik sekali seni memuji atau mengkritik yang dijelaskan di sana. Bisa menambah wawasan kita untuk semakin baik dalam seni berhubungan dengan orang lain yang tak lepas dari situasi memuji ataupun mengkritisi.

Pujian sering kita berikan manakala seseorang telah berhasil melakukan atau mencapai sesuatu. Bahkan secara sederhana pujian pun dengan mudah kita layangkan hanya dengan melihat, teman, pasangan atau anak mengenakan sesuatu yang baru pada diri mereka.

“Waaah, kamu semakin cantik jadinya pakai jilbab.”

Itu contoh kalimat pujian umum sederhana yang kita lontarkan saat melihat saudara, teman, atau anak kita saat kali pertama memakai jilbabnya. Mereka pun biasanya akan bertambah sumringah tatkala mendengar pujian itu.

Bagaimana dengan apresiasi? Kalau mendengar kata apresiasi, ingatan awal saya dulu langsung mengacu pada program televisi jadul yang bernama Apresiasi Film Nasional. Acara yang tayang pada akhir pekan. Dan ternyata di profesi yang saya geluti hari ini kata-kata apresiasi adalah menjadi bagian dari respons penting yang kami lakukan pada coachee (klien) di saat sesi coaching berlangsung.

Dalam dunia coaching apresiasi atau juga dikenal dengan istilah acknowledgment adalah respons yang seorang coach lakukan pada coachee-nya di sesi coaching ketika misalnya coachee sudah sedemikian terbukanya pada coach di dalam cerita-cerita yang terkait situasi dirinya. Apresiasi diberikan seorang coach saat mendengar coachee aware pada dirinya yang belum mencapai goal, misalnya. Ketika menangkap nilai-nilai (value) dalam cerita coachee, seorang coach pun akan memberikannya acknowledgment. Acknowledgment juga bermakna pengakuan atau penghargaan.

Menjadi pemahaman di ranah coaching jika seorang coach tak memberikan pujian dalam sesinya melainkan sebuah penghargaan atau apresiasi.

“Loh kok gitu? Apa bedanya?”

Dulu, saat awal-awal belajar coaching saya pun masih sangat kaku dan tak terbiasa melakukan demonstrasi apresiasi (acknowledgment). Ini berkaitan dengan netralitas, intensi dan atensi seorang coach. Penjelasan detailnya akan hal ini, to be continued di kelas coaching kita ya

Berikut contoh sederhana respons apresiasi di dalam sesi coaching.

Coach: Gimana Pak Heru, perkembangan tentang rencana aksi yang telah dilakukan untuk sesi coaching perdana kita 2 minggu yang lalu?

Coachee: Iya coach, saya sudah mulai melakukannya. Namun karena berbagai kondisi yang ada saya baru bisa mengeksekusi 2 dari 4 rencana aksi yang saya buat 2 minggu yang lalu coach.

Coach: Oh Baik, terima kasih Pak Heru atas keterbukaan dan kejujurannya. Saya mengapresiasi hal tersebut.

Pada contoh di atas seorang coach memberikan apresiasi pada keterbukaan dan kejujuran coachee yang telah melakukan 2 rencana aksi dari 4 rencana aksi yang dibuatnya di sesi coaching sebelumnya. Mari kita lihat pada contoh kedua berikut.

Coach:  Ketika Bu Anisa mencapai goal yang tadi ibu sampaikan yaitu bisa menentukan prioritas dari aktivitas yang dilakukan sehari-hari, apa dampak dari pencapaian hal itu bagi orang-orang terdekat ibu?

Coachee: Ketika saya bisa menentukan prioritas dalam aktivitas sehari-hari saya, dampaknya adalah saya merasa bisa menjadi teman, kolega, ibu, istri yang bisa diandalkan buat mereka. Tidak lagi gelagapan seperti yang sebelumnya sering terjadi, akibat saya kurang aware pada hal tersebut.

Coach: Wah, Bu Anisa saya menangkap ada nilai responsibilitas dari kalimat yang ibu sampaikan tadi, dan saya sangat menghargainya.

Di contoh kedua, coach memberikan apresiasinya pada coachee kala menangkap ada sebuah value dari ceritanya. Contoh value dari coachee di atas adalah rasa responsibilitas  atau tanggung jawabnya yang muncul dari cerita yang disampaikannya terkait keinginannya melakukan prioritas aktivitas.

Sebuah apresiasi tak cuma diberikan karena tercapainya sebuah tujuan seseorang. Apresiasi bisa diberi ketika kita melihat ada semangat dan upaya dalam proses yang dilakukan, meski tujuan belum tercapai atau bahkan tak tercapai. Sebaliknya pujian sering dilakukan pada seseorang atas pencapaiannya. Bahkan pujian sering dilakukan atas keelokan penampilan fisik semata. Atau pujian bisa dilakukan hanya untuk berbasa-basi alias lip service. Itu juga yang mendasari dalam sesi coaching seorang coach melakukan apresiasi bukan memuji coachee. Saya pun jadi teringat ada salah seorang teman dekat saya yang tak suka pujian. Menurutnya pujian itu lebih banyak basa-basinya. Dan beliau katanya tak begitu suka berbasa-basi makanya dia jarang memuji.

Well, bisa jadi beliau lebih menyukai apresiasi.”

So, kalau begitu sebaiknya memberi pujian atau pengakuan? Dua-duanya bisa dilakukan dalam keseharian kita. Karena dunia coaching menjadi keseharian saya, respons apresiasi semakin sering saya aplikasikan dalam komunikasi sehari-hari. Tentu dengan susunan kalimat yang lebih kasual. Bentuk apresiasi yang paling sederhana adalah menyampaikan ucapan kata-kata terima kasih.

Nyatanya pula di dunia ini, apresiasi dan penghargaan menjadi kebutuhan manusia. Cukup banyak relasi yang tak harmonis bahkan terputus dalam berbagai lini kehidupan sebab kurangnya sebuah apresiasi. Kita mungkin bisa melihat banyak contoh nyata kondisi ini. Di dunia kerja, banyak pekerja yang tak betah dan keluar dari pekerjaannya bukan karena rendahnya gaji yang diterima, melainkan keringnya apresiasi dan penghargaan yang diberikan. Banyak dari mereka yang keluar itu adalah orang yang kinerjanya baik tapi minim atensi dan apresiasi.  Hari-harinya lebih banyak mendengar kekurangan dan kesalahan yang dilakukannya daripada usaha yang dihasilkan. Tentu saja pada level yang lain apresiasi dan penghargaan itu bisa berwujud dalam beragam bentuk.

Buku Managing with Carrots karya Adrian Gostick & Chester Elton mengupas bagaimana pentingnya sebuah penghargaan dan apresiasi pada pekerja dilakukan oleh pemimpin perusahaan/organisasi. Penghargaan dapat meningkatkan komunikasi, kepercayaan dan produktivitas pekerja. Selanjutnya orang mau bertahan karena kontribusi mereka diakui, dihargai dan lalu mereka mendapat reward untuk itu. Bisa dibayangkan bagaimana jika di sekitar tiap kita semakin banyak lahir apresiasi dan bukan caci maki.

Mantan CEO inspiratif dan sukses di dunia, Jack Welch dari GE (General Electric) melakukan dan membuktikan hal itu. Dia mengatakan para pemimpin tak hanya harus mengerti pentingnya memberi dukungan, inspirasi dan penghargaan pada dua puluh persen pekerja berbakat. Tujuh puluh persen pekerja berkinerja tinggi harus diberi kekuatan untuk memperbaiki dan bergerak ke atas. Artinya sebagai pemimpin seseorang benar-benar harus mampu melihat kapasitas tim dan mendukung mereka mencapai puncak. Karena sesungguhnya suksesnya sebuah organisasi, perusahaan, pastilah tak lepas dari orang-orang yang ada di dalamnya.

Sekali lagi sebuah apresiasi atau penghargaan itu terjadi tak melulu ketika kita berada di atas panggung ceremony saja dan memberi dan menerima piala atau sejenisnya. Ucapan positif yang keluar dari mulut kita saat merespons orang-orang di sekitar atas pencapaian, upaya, nilai-nilai diri, keyakinan diri, cita-cita dan hal positif lainnya yang mereka bagi, rasanya sangat layak untuk diberikan apresiasi.

“Hmm, kalau begitu menurut Anda apa yang akan Anda apresiasi pada orang-orang di lingkaran terdekat Anda hari ini?”

Kalau dari saya salah satunya adalah saya sangat menghargai kebaikan hati dan waktu yang telah Anda luangkan untuk membaca tulisan ini, dan saya sangat berterima kasih untuk itu.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *