Review Book Man’s Search for Meaning Part 1

Di antara kita mungkin sudah pernah membaca buku lawas yang fenomenal yang berjudul Man’s Search for Meaning itu. Tahun lalu di bulan Januari saya membaca buku ini versi bahasa Indonesia yang sudah terbit pada tahun 2017, sebab nama buku itu sering disebut-sebut sebagai inspirasi dari beberapa buku lainnya yang saya baca. Agak penasaran saya pun mencari buku tersebut. Beberapa hari kemarin saat merapikan susunan buku di rak, mata saya lalu tertuju pada buku ini. Langsung saja tangan saya meraih dan menyisihkannya untuk dibaca ulang.

Man’s Search for Meaning karya Viktor E. Frankl seorang dokter jiwa/psikiater berkebangsaan Austria yang terbit pada tahun 1946. Amazing! Buku sebagus ini sudah ada di zaman-zaman tak enak? Begitu kesan pertama saya saat membacanya dulu. Kemana saja saya selama ini kok belum membaca buku sebagus itu? Bisik saya dalam hati saat pertama kali membacanya.

Sebagai informasi, buku Man’s Search for Meaning telah terjual lebih dari 16 juta eksemplar, diterbitkan dalam 49 bahasa, 190 edisi dan termasuk 10 buku berpengaruh di Amerika yang dibaca oleh para psikolog, psikiater, pemimpin, profesional, ahli filsafat, ahli agama, guru, mahasiswa dan pembaca umum lainnya Tentu kalau bukan karena maknanya  yang dalam dan kebermanfaatan yang bisa orang peroleh dari buku ini, lalu karena apalagi? Uniknya saat awal buku ini mau naik cetak, Dr Frankl berniat untuk tak mencantumkan nama aslinya di buku itu.

Kali kedua membaca buku ini saya pun semakin melihat banyak pesan di dalamnya (eksplisit dan implisit). Pada kesempatan ini saya akan mengulik sekelumit pesan dan cerita dari buku tersebut. Saya juga merekomendasikannya bagi Anda yang belum  membaca buku hebat ini menjadi bagian aktivitas Anda saat (#di rumah saja).

Dr Frankl adalah seorang mantan tawanan di camp konsentrasi Nazi yang terkenal dengan kekejamannya. Sebenarnya kala itu sebelum ditawan, dia bisa saja lari menyelamatkan dirinya ke Amerika karena dia telah mendapatkan visa resmi negara itu, seperti banyak yang teman-teman seprofesinya lakukan. Namun Frankl akhirnya membuat keputusan di luar dugaan di tengah dilema yang sempat ia hadapi. Dia tak mengambil kesempatan itu dan memutuskan untuk tetap tinggal di Austria demi berkumpul bersama orang tuanya yang mulai lanjut usia.

Apa yang mendasari tindakan Dr Frankl itu? Sebabnya adalah karena dia seakan tersadarkan pada kutipan perintah Tuhan dalam kepercayaannya yang berbunyi, “Hormati ayah ibumu agar lestari hidupmu di tanah yang diberikan Tuhan.”

Frankl kukuh memutuskan untuk tetap bersama orang tuanya di Wina apapun yang terjadi. Padahal sebenarnya orang tuanya juga sangat gembira mendengar Frankl telah mendapatkan Visa ke Amerika. Mereka berpikir setidaknya salah satu generasi mereka akan selamat dari kekejaman Hitler. Baru di lembar-lembar awal bacaan saya sudah merasa terenyuh. Dr Frankl telah menyampaikan pelajaran yang sangat dalam tentang tanggung jawab seorang anak untuk melindungi orang tuanya di tengah ketidakberdayaan masa tua mereka.

Buku ini begitu hidup dalam menggambarkan kisah kehidupan yang tak biasa para tawanan di sebuah camp konsentrasi. Camp konsentrasi yang selama ini saya tahu dari sebuah film atau cerita-cerita, nyatanya persis seperti yang dirasakan dan disampaikan Dr Frankl dalam bukunya. Meski tidak dengan bahasa yang vulgar beliau menceritakan semua kekejaman yang terjadi pada mereka sebagai tawanan, deskripsi  yang disampaikan sudah membuat saya bergidik dan menghela nafas membayangkan situasi yang pasti sangat-sangat mencekam saat itu.

Kerja paksa di bawah dinginnya salju lebih dari dua belas jam sehari, dengan suhu ekstrem di bawah nol derajat, siapa yang sanggup? Normalnya manusia akan melindungi diri mereka dari cuaca sangat dingin yang bisa membuat mereka menjadi hipotermia. Mendapat jatah makanan yang tak manusiawi, hanya seperlima ons roti untuk 4 hari di tengah kondisi bekerja keras mereka jalani, sungguh di luar nalar akal sehat. Seringnya tanpa kerja fisik yang keras saja orang makan 3 kali sehari, belum lagi camilan ini itu yang menemani. Sementara suhu yang dingin sering membuat orang butuh  kalori yang cukup untuk menghangatkan tubuh.

Menghadapi suhu yang membeku, mereka hanya berbalut pakaian tipis. Tanpa penutup kepala yang plontos itu mereka dengan gemetar membagi jatah makanan yang diberikan di cuaca bersalju.  Lihat saja perlengkapan yang digunakan orang-orang saat musim dingin tiba di luar negeri. Mereka akan menutup rapat-rapat dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan perlengkapan khusus dari terpaan angin dingin. Mendapatkan jatah semangkuk sup cair,  adalah sesuatu yang sudah membuat mereka sedikit bahagia.

Tidur di gubuk yang sangat dingin di malam hari saling berdempet dengan badan-badan kurus masing-masing, mereka nikmati demi membuat badan mereka tetap hangat. Tak ada perapian yang boleh dinyalakan. Belum lagi saat wabah sakit seperti tifus datang melanda camp, mereka dipastikan sangat rentan tertular dan pengobatan pun dilakukan seadanya. Dr Frankl sendiri pernah terjangkit tifus meski dia pun harus tetap mengobati tawanan yang lainnya dengan kondisi tubuh seperti orang setengah sadar.

Di tengah sakit fisik dan psikis yang mereka hadapi, tetapi mereka harus terus bekerja, berjalan di atas jalan yang dingin tertutup salju dengan alas kaki seadanya. Walau terhuyung-huyung dan jatuh bangun. Terkadang masih saja ditambah dengan tendangan, layangan pukulan, kata-kata kasar, hinaan bak hewan, yang kerap mereka terima tak berdaya dari para serdadu SS (Nazi). Para serdadu-serdadu itu juga tak segan melakukannya jikalau mereka mendapati para tawanan yang lemah itu seakan bermalas-malasan bekerja padahal mereka cuma beristirahat sebentar untuk beberapa saat. 

Di kirim ke kamar gas dan menjadi gumpalan asap hitam adalah cerita pilu lainnya yang biasa dihadiahkan bagi mereka yang sudah dinilai tak berguna dan tak mampu bekerja. Maka tak heran, banyak tawanan yang memilih mengakhiri hidup sebelum benar-benar dieksekusi di kamar gas. Dr Frankl pun menceritakan bagaimana hatinya terpanggil untuk menguatkan para tawanan itu agar tak bunuh diri meski mereka memang dalam kondisi yang sangat buruk ini. Pasti sangat tak mudah melakukan hal ini di tengah orang yang sudah sangat apatis akut di dalam hidupnya. Apalagi dilakukan juga oleh seorang tawanan yang sama-sama menderita. Memotivasi orang lain di tengah diri sendiri pun sedang butuh kekuatan dan pertolongan pasti bukan hal mudah.

Kejadian demi kejadian tak manusiawi, kekejaman, kepedihan dan penderitaan hidup di dalam camp konsentrasi tentu banyak merubah mental seseorang dan menyebabkan guncangan jiwa. Masuk ke dunia bak neraka ini tentu menjadi mimpi buruk yang nyata bagi mereka. Kemampuan bertahan hidup benar-benar dipertaruhkan di sini. Ini sebuah camp konsentrasi. Nama lainnya camp pemusnahan. Di mana semuanya serba genting, dibawah tekanan dan tak pasti. Kehidupan seseorang terbalik 180 derajat di sini. Nyawa mereka terancam setiap saat.

Pertanyaannya adalah lalu bagaimana  Dr Frankl bisa bertahan selama 3 tahun dalam keadaan sangat mengerikan  dan penuh penderitaan itu? Sudah tentu ini sebuah keberuntunganku dari yang Kuasa, kata Dr Frankl mengakui.

Bersambung...

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *