Siapa Mau Makan Toplesnya?

Di lebaran kemarin biasanya kita acap menyaksikan parade toples dengan beragam bentuknya terpampang di atas meja. Dari yang terbuat dari plastik biasa hingga yang terbuat dari kristal kaca.

Dari dalam toples tersebut terlihat penampakan  siluet isinya. Ada yang sudah bisa kita tebak namanya dan ada juga jenis kue yang kita tak tahu apa dia.

Toples kristal kaca dengan bentuknya yang anggun dan elegan acap menggoda untuk dicicipi rasa kuenya dengan segera. Sangat berhati-hati tangan ini menjangkau tutup toples, jangan sampai dia terjatuh. Kalau sudah begini bisa akan runyam ceritanya.

Dan saat isi toples tersebut mendarat di mulut, oh betapa terkagetnya lidah ini ternyata rasa kuenya tak seelegan seperti yang dibayangkan. Karena sungkan pada sang tuan rumah, makanan ini pun lanjut ditelan juga. Sesaat lantas terpikir  “kena prank nih”.

Ironinya kadang kita pun terlanjur skeptis pada kue yang terbalut toples plastik, toples biasa, apalagi yang tak ada mereknya. Bahkan pada awalnya ada rasa ogah  untuk mencicipi.

Hingga pada akhirnya “rasa tak pernah bohong”, seperti kata iklan. Perpaduan bahan yang pas pada akhirnya menghasilkan potongan kue yang lembut, gurih, renyah atau manis bisa dideteksi langsung oleh lidah ini. Yang tadinya rada enggan untuk mencoba, sekarang malah jadi ketagihan dibuatnya.

Kejadian tersebut mungkin pernah kita alami. Saya sendiri baru saja kembali mengalaminya lebaran ini. Melihat sajian dalam toples plastik tanpa merek pula,  saya tak mau berekspektasi lebih  dengan rasa kuenya.  Lantas, 

“Oh makjang (istilah orang Medan karena surprise) rasanya di luar nurul eh di luar prediksi.”

Rasa kue ini sangat enak, terasa pas segala sesuatunya. Saya pun langsung menerawang jika skill pembuat kue ini gak ecek- ecek.

Saya tersenyum sambil kembali tangan ini meraih lagi kue itu dan melumatnya ke dalam mulut. Rasanya masih sama,  tetap enak seperti tadi. Sebab tadi saya sudah skeptis duluan dengan toples plastik tanpa merek, maklum orang visual. Segala sesuatu maunya eye catching. Dan ini yang  kadang membuat jadi lupa berpikir  bahwa tak selalu ada kaitannya antara toples dengan rasa kue. Lupa esensi karena terpukau dengan bungkus luarnya.

Toples dan kue ini adalah   juga menjadi kiasan kebiasaan kita dalam menilai sesuatu di keseharian. Misal, esensinya adalah ingin cas cis cus berbahasa Inggris (mendapat ilmu) bukan sedang melihat sebuah kontes atau gimik-gimik yang gak nyambung dalam menentukan tempat belajar.

“Iya di sana les Bahasa Inggrisnya enak karena yang ngajar tampangnya cool dan keren.”

Padahal kan yang lebih penting dari sekadar tampang adalah skill Bahasa Inggrisnya yang keren! Pada prinsipnya makanan cepat saji itu kurang sehat, meskipun bintang iklannya artis top dunia. Tapi agar terasa keren, keseringan makannya malah itu melulu. Kalau penampakannya mahal, bagus, asumsinya pasti isinya pun sama.

Ah, begitulah memang seringnya kita manusia. Bersyukur jika “toples dan kuenya” sama-sama cantik. Tapi kalau tidak, saya bukan debus yang sanggup makan toples kaca. Saya pasti akan memilih “kuenya”.  

Cibubur, 16 April 2025

2 komentar untuk “Siapa Mau Makan Toplesnya?”

  1. Dr.Ester Yunginger,M.Pd

    sangat menginspirasi, terlihat antara pengalaman dan teknis menulis sangat menyatu bagaikan adonan kue.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *